29 Agustus 2008

Belajar Filsafat atau Berfilsafat?

Dalam mempelajari filsafat, sebenarnya ada dua model yang mungkin dapat kita pakai sebagai pilihan. Pertama, mempelajari filsafat secara teoretis, dan yang kedua, mempelajari filsafat secara praktis. Pada pilihan yang pertama, kita dihadapkan pada keharusan untuk belajar filsafat secara teknis dari buku-buku, seminar, kursus, ataupun melalui perkuliahan di pendidikan tinggi. Apa yang kita pelajari di sini adalah "pikiran orang lain tentang filsafat". Ini sama artinya kita dituntut untuk memahami orang lain dalam kerangka sejarah berpikir umat manusia.

Dalam model yang kedua, ketika kita mempelajari filsafat secara praktis, maka kita akan belajar filsafat melalui hal-hal yang sederhana. Jalan ini sebenarnya sudah dipraktekkan jauh-jauh hari sebelum abad masehi oleh Thales dari Miletos, Yunani. Beliau mempelajari alam sekitarnya untuk mendapatkan kesimpulan bahwa hakikat segala sesuatu terletak pada air sebagai zat yang paling mendasar. Jadi, melalui pemahaman Thales akan dunia sekitarnya, filsafat dipraktekkan sebagai jalan untuk memahami sesuatu. Pada konteks ini, sesuatu yang ingin dipahami Thales adalah dunia.

Nah, sehubungan dengan dua model belajar filsafat ini, maka kita dapat saja memilih salah satunya. Bila jalan pertama yang ditempuh, pada tingkatan yang lebih lanjut, Anda akan terarah menjadi seorang "ahli filsafat". Sedangkan bila jalan kedua yang ditempuh, Anda akan terarah menjadi "filsuf". Lalu, apa bedanya ahli filsafat dengan filsuf?

Ahli filsafat sebenarnya lebih banyak menguasai teori yang diungkapkan oleh para filsuf tentang hakikat sesuatu. Dia ini bekerja untuk menguji benar tidaknya teori-teori filsafat secara akademis. Bila seorang ahli filsafat mampu mengkritik dan membangun suatu pandangan baru dari teori filsafat yang diujinya, maka ahli filsafat statusnya bergeser menjadi filsuf.

Khusus untuk filsuf, dia ini sebenarnya adalah orang yang mempraktekkan filsafat baik secara langsung ataupun tidak langsung, hingga dia mendapatkan kesimpulan atas hakikat sesuatu hal yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang umumnya. Pandangannya atas sesuatu hal biasanya sangat khas dan merupakan pandangan yang baru untuk sesuatu halnya itu. Filsuf tidak mesti berasal dari ahli filsafat karena mungkin saja seseorang punya suatu teori filsafat tanpa harus belajar filsafat secara teknis. Namun, seseorang akan bergelar sebagai filsuf bila ia diakui telah menelurkan teori filsafat yang dapat diuji secara akademis.

Dengan demikian, belajar filsafat dapat memiliki beberapa maksud. Ada maksud hanya ingin mengetahui filsafat itu seperti apa, ada yang belajar filsafat karena tertarik dengan apa yang dipelajarinya, ada yang karena ingin menjadi seorang ahli filsafat atau filsuf, atau belajar filsafat karena suatu kebutuhan. Barangkali, yang terakhir inilah yang menjadi maksud saya untuk belajar filsafat. ;-)

16 komentar:

asmisya mengatakan...

salam kenal dulu ya,
selamat Ya, saya tertarik dengan blog Anda. Belajar filsafat atau berfilsafat menurut saya sama-sama tidak ada ruginya.
dulu saya pengen banget kuliah di jurusan filsafat. funding yg mensupport saya alias ortu tidak utk di jurusan filsafat.
apa boleh buat? waktu itu saya masih sangat bergantung pd mereka. hehehe...
Makasih dg blog ini saya bisa belajar...

salam,
asmisya

ndy_ndy mengatakan...

slm knl yaghhh...saya tertarik degan ilmu filsafat..jd saya mw belajar filsafat..saya mau minta perndapat saya harusx belajar dari mn yaghh

Asmisya mengatakan...

waah, ada juga yang mau belajar nih, ayo mana postingan yang baru...saya tunggu lho...

4im mengatakan...

Slm knal jg buat smuanya.
Aduh, makasih banyak klo misya ap ndy mo bca blog sy. Kebetulan sy lg repot nyiapn buat kuliah di kmpus dl. Jd, smntra ttnda dl ngeblognya. Tp, skg dah ada posting bru. Slmat mbca aj y? ;-)

Frans. Nadeak mengatakan...

Kan 4im, terima kasih atas tulisan-tulisannya!

syamsul ali jethro mengatakan...

salam kenal... sya dah lama pingin belajar filsafat. tpi belum pernahkesampaian, maklum saya sekrg tinggal di dalam rimba belantara papua yang msih jauh dari peradaban... terimakasih ya..dan mhon ijin di perkenankan jadi muridnya.. hehehehe..

4im mengatakan...

Frans, sama2 juga buat anda.
Syamsul, aduh ko jadi murid. saya cuma share aja di sini. ^_^

zakariia al mahmudi mengatakan...

kang tasiknya dmna kang??
salam kenal kang...

tasawuf mengatakan...

jujur kalau aku sie jika belajar filsafat paling benci dengan tumpukan buku-buku dan isinya untuk memperlajari pemikiran orang lain. aku sie lebih suka merenungkan apa pendapatku terhadap TEMA A ?. daripada hafalin apa pendapat tokoh p terhadap tema A. jadi kita gunakan kemampuan otak kita semaksimal mungkin. kalau belum ketemu baru dech cari referensi dari tokoh, buku, net dan setelah itu baru kita keluarin tuh pendapat kita.
aku jadi ingat dengan kata-kata filosuf. "jangan takut berfikir karena berfikir tidak akan membuat anda masuk penjara".

4im mengatakan...

> zakariaa: sama2. abdi di singaparna. ^_^
> tasawuf: baguslah kalau anda suka dengan cara seperti itu. walaupun demikian, mempelajari pikiran orang lain (filsuf) juga bukan sesuatu yang keliru. banyak filsuf besar juga mempelajari pikiran filsuf lainnya. sebab, seperti yang anda bilang pada komentar sebelumya, dalam filsafat akan selalu ada debat dan kontemplasi ^_^

www.cahayamaharani.com mengatakan...

salam kenal yaaaaa,,,,,,,
seneng dech baca baca tentang filsafat yang antum tulis. gag papa kan ana ikutan belajar?

hehe,,,, makace sebelum dan sesudahnya

4im mengatakan...

> cahayamaharani: oh boleh sekali. cuma maaf kalo agak jarang update. berhubung harus berbagi waktu dengan pekerjaan di kantor ^_^

ikuti kami ,,,agamamu mati mengatakan...

jika aku ditanya knp milih filsafat?

tak ada jawaban yang bisa aku nyatakan

hanya saja , setiap tingkah laku yang aku perbuat dipandang oleh orang yang melihat sebagai seorang yang berendah hati yang sedang belajar mengetahui yang diketahui, dan mengetahui yang tidak diketahui

Ninda Argafani mengatakan...

saya senang dengan blog ini. baru 3 pertemuan saya belajar filsafat di kampus. kebetulan masih dasar.

salah satu tugas yang dosen saya berikan adalah membuat refleksi dari pertemuan sebelumnya. selain mengomentari hasil pemikiran elegi-elegi dosen saya Dr. Marsigit

jika saya melihat diri saya sendiri, berarti sekarang saya belajar secara praktis.

Saya ingin suatu kali kalau mas Aim ada waktu mampir ke blog saya, saya ingin pendapat mas Aim mengenai apa yang saya tuliskan di blog saya. Sekaligus sebagai bahan perbaikan saya dalam berfilsafat.

terima kasih sebelumnya

philoospsyhcoo.blogspot.com

Salam
Ninda

arif prabowo mengatakan...

Assalamualaikum, selamat sore. salam sejahtera untuk kita semua. untuk bang aim, saya minta refferensi buku untuk pengantar filsafat, filsafat menarik sekali bagi saya. karna saya berfikir tanpa filsafat, peradaban hanyalah sebuah utopis. historis, pemikiran, konsep, gagasan yang tercipta dan ditumpahkan dalam wacana, dari rasio menuju kenyataan yang seharusnya terpikirkan. mungkin saya sudah jauh berfikir tentang suatu hakikat, sebab dari segala sebab dari sekian rantai kausalitas. akan tetapi saya tidak mempunyai landasan meskipun saya sudah bulatkan tujuan. dengan hormat saya katakan kepada bang aim yang disana, tolong berikan gambaran untuk membentuk 'rel' untuk kereta proses pembelajaran saya, untuk menuju suatu peradaban yang lebih beradab. mengapa saya katakan seperti ini karna sebuah idealitas takkan sama atau sejalur dengan sebuah realitas. dan saya sudah bosan terus memenjarakan gagasan didalam kerangka pemikiran karna saya selalu dipatahkan karna tidak mempunyai landasan. karna sebuah ideologi bagi saya adalah candu. terimakasih atas perhatiannya, saya senantiasa menunggu tanda tanya ini di hancurkan. hormat saya 'tetesan air dari bagian arus yang besar'

warm_tone mengatakan...

Terima kasih atas tulisannya.

Benar sekali mas Aim, seorang filsuf haruslah menempuh jalur akademis, atau paling tidak diakui dalam masyarakat berkontribusi dalam bidang filsafat dengan teori yang ia ciptakan meski tidak bergelar akademis sekalipun seperti halnya filsuf jaman dahulu. Sebaliknya, orang awam seperti saya hanya pecinta kebijaksanaan. Saya mempraktekkan teori yang sudah ditelurkan para ahli dalam ruang yang lebih praktis. Saya praktisi filsafat. Kita semua praktisi! seharusnya. Karena kata seorang filsuf, "hidup yang baik adalah hidup yang terkoreksi."