Aduh, ditanya lagi? Kenapa harus memulai dengan pertanyaan sih? Apa ga bisa dimulai dengan pernyataan aja?
Ini yang mungkin ada dalam benak kita ketika membaca judul di atas. Tapi, jangan heran, sebab filsafat ternyata mengajarkan kita untuk bertanya terlebih dahulu sebelum sampai di wilayah filsafat itu sendiri. Kalau kita sudah membuat satu pertanyaan penting dalam hidup kita, maka kita akan berjalan menuju wilayah filsafat dengan pasti. Jadi, sudahkah Anda membuat pertanyaan itu? ;-)
Misalnya begini. Apakah yang dinamakan blog itu? Secara sederhana tentu kita dapat menjawab bahwa blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital". Atau, mungkin Anda punya jawaban ini, blog adalah "diari elektronik".
Nah, dari pertanyaan sederhana tentang blog saja kita sudah mendapat dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama kayaknya terlalu formal, dan jawaban yang kedua lebih mudah kita ingat. Ini sudah menimbulkan sedikit masalah sebenarnya, karena kita mungkin bingung untuk memilih jawaban yang pertama apa jawaban kedua. Atau, malah Anda punya jawaban lain?
Bertambahnya jawaban, walaupun hanya satu, menandakan bahwa pikiran kita yang bingung mulai berkembang untuk mengatasi masalah tersebut. Ada jawaban A, B, hingga Z mungkin. Oleh karenanya, dibutuhkan kemauan dan kesanggupan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks ini, filsafat sebenarnya membantu kita untuk menata persoalan. Dalam kasus di atas, kalau kita memiliki jawaban lain yang mengatakan bahwa blog itu adalah "cara baru untuk bertegur sapa", kenapa ga kita coba aja membandingkannya dengan jawaban di atas.
A --> Blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital".
B --> Blog adalah "diari elektronik".
C --> Blog adalah "cara baru untuk bertegur sapa".
(Wah, ini gimana ini maksudnya? Kok bikin pusing aja sih! Hikks ... Tenang, bentar lagi kok. Lebih baek Anda minum dulu es teh atau jus yang sudah dipesan. Ben seger lho belajarnya! Hehe ...)
Tiga pengertian ini kalau kita ambil yang pokoknya akan terdiri dari beberapa istilah penting, yaitu: "tempat", "ekspresi", "bebas", "dunia digital", "diari", "elektronik", "cara", dan "tegur sapa". Istilah-istilah ini kan bisa kita rangkai lagi menjadi pengertian baru menjadi:
Blog adalah "cara berekspresi di dunia digital atau diari yang kita buat secara elektronik dan menjadi tempat untuk bertegur sapa dengan bebas".
Nah lho! Muncul deh jawaban baru yang merangkum semua jawaban. Inilah gambaran sederhana bagaimana kita berfilsafat. Seperti yang sudah saya singgung dalam posting sebelumnya, filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu". Itu sudah kita terapkan pada langkah-langkah kita untuk menyarikan jawaban baru untuk pengertian blog dari tiga jawaban sebelumnya.
So, inilah salah satu alasan kenapa kita belajar filsafat. Kita kan butuh satu cara untuk lebih memahami masalah-masalah kita; memahami keluarga, saudara, kerabat, sahabat, teman, teman dekat, pacar, "selingkuhan" (ni kalo punya lho! tapi dilarang keras menggunakan filsafat untuk mendapatkan selingkuhan y? hehe ...), kolega, orang asing, orang utan, dan macam-macam orang yang sejenis dengan "manusia"; juga yang terpenting memahami tujuan hidup kita sendiri.
Pada tingkat yang lebih jauh, dengan belajar filsafat atau tepatnya belajar memahami secara lebih baik, kita tidak akan menjadi egois alias mengaku yang paling benar. Kalau ada di antara kita yang tukang nyalahin orang itu berarti dia belum belajar filsafat. Dia hanya "belajar teori filsafat". Jadi, maukah Anda belajar filsafat bersama saya? ;-)
22 Agustus 2008
Mengapa Belajar Filsafat?
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

8 komentar:
sepanjang yang ku tahu, jika berfilsafat adalah berarti cara "menerjemahkan" apa yang ada ini sehingga dpt dicerna dalam pemikiran kita, menurutku kenapa belajar filsafat? jawabannya ya karena kita hidup
hidup membutuhkan ilmu, ilmu apapun itu, dan jika filsafat itu cara berfikir maka filsafat ya induk ilmu itu sendiri
jika saya tidak belajar filsafat, saya jadi tidak belajar apapun karena saya tidak belajar berfikir
bolehkah jika ada yang bertanya saya jawab seperti itu? ini ceritanya minta saran he he he :)
makasih
PERTEMUAN DENGAN AIM
wendy wardiansyah
ketika weltanschaung datang pada nafasku
akan kuputar balikan dunia
kutemukan rumus indah
dan kan ku buktikan pertemuan kita
duduk di pintu pertimbangan kita lakukan
ini nisan barometer
dan kematian jadi hal yang abstrak
berceritakah
mata yang slama ini kita buat
ini gerbang
punah dari hidup
bukan tidak mati tapi isi
sunyi tanpa merdeka
mengikatkan diri pun apa arti
ini tak sepadan aku dan kau
hidup adalah warna bagiku
aku ada di atas batas
terbunuh oleh diri sendiri
mengembara dalam kesepian
ini AHASVEROS
dan kau berhasil menyinari masaku
november 2010
Belajar filsafat sambil minum es teh manis ya,, mmm belajar filsafat yang menyenangkan.
Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan akademik maka belajar dengan cara seperti ini sangat efektif buat saya. Terima kasih ya pak guru ^_^
Sepertinya saya akan betah ni belajar filsafat hehehehe
mauuuuuuuuu...!!!
Terima Kasih, aku baru ajah disuruh buat tentang artikel, nah karena td aku diberi sedikit cerita tentang ibu dari ilmu, jadi tertarik buat artikel tentang filsafat
semoga artikel ini akan berguna bagi pembacanya . Makasih yah :D
> medi bilem: sayangnya, filsafat itu bukan ilmu mas ^_^
> kerja cerdas: semoga betah walo jarang update. hehe...
> naib d parvez: wah, ga bs dikrim via online kalo es teh ^_^
> aisha: ya, sama2 ^_^
kebodohan yang aku jadikan landasan pencarian membuat semua begitu indah
aku kejar semua
aku terlalu yakin akan ketidak bisaanku
padahal aku hanya seorang yang menggapai satu titik di alam semesta ini sedangkan masihbanyak titik lainnya
atau boleh di nyatakan
aku seorang yang sedng melihat kebawah alam semesta untuk melihat seberapa di perlukan aku di alam ini
dengan singkat aku katakan
aku seorang yang perlu banyak tahu, dengan ketidak tahuan aku sudah merasa tahu, padahal diatas langit masih terdapat langitlainnya
, aku sebagai seorang yang akan membangun, butuh banyak bahan, aku akan berusaha mencari bahan2 , salah satunya dari kang aim
sy tdk trlalu mengerti ttg ilmu filsafat, bgt jg banyk org lain yg smpt menempuh pendidikan S1. tp apakah it masalah? sy kira tdk. sy bs berfilsafat sendiri kalau sy mendalami disiplin ilmu sy atw hal lainny, bgt jg yg mmplajari disiplin ilmu lain.
mohon maaf bg yg terlalu sibuk dgn filsafat ini dan itu, sy kira membuang waktu dan tdk produktif. y pelajari sj langsung dgn baik ekonomi, sains & teknologi, politik, hukum dst maka scr tdk langsung sdh belajar filsafat. ini yg bs kt sebut pemborosan intelektual, trlalu sibuk berpikir tp tdk menghasilkn apa2 bg kemajuan kemanusiaan dan peradapan.
Poskan Komentar