14 September 2008

Mau ke mana?


Nah, setelah kita mempelajari beberapa tulisan pengantar mengenai filsafat, tentu muncul lagi pertanyaan dalam benak kita. Pertanyaan itu tidak lain daripada "Kita harus mulai belajar filsafatnya darimana?" Kalau ini memang pertanyaan Anda, maka pertanyaan ini kira-kira akan memiliki jawaban sebagai berikut.

Belajar filsafat sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan yang paling Anda sukai atau paling membuat Anda bingung. Kenapa demikian? ;-) Ini karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan memberikan energi kreatif buat Anda untuk belajar filsafat. Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas dalam contoh di bawah ini.

Ani punya satu pertanyaan dalam hidup yang mungkin ia sukai. Pertanyaan itu adalah "Kenapa kucing disebut dengan kata 'kucing' atau gajah disebut dengan kata 'gajah'?". Atas pertanyaan ini, Ani juga sering membuat lelucon pada temannya dengan pertanyaan "Kenapa kucing ga disebut dengan 'gajah' atau gajah kenapa ga dibilang saja 'kucing'?". 

Pertanyaan Ani ini, walaupun hanya bercanda, tetapi punya akibat yang cukup jauh lho kalau kita pikirkan secara serius. (Walaupun sebenarnya ga serius-serius banget. Hehe... ) Ini berkaitan dengan asal-usul kata. Asal-usul kata atau bahasa kerennya adalah etimologi, sebenarnya berkaitan dengan pengetahuan kita sebagai manusia. Dalam kata yang kita pergunakan sehari-hari, itulah inti dari pengetahuan kita. Misalnya, ketika saya menggunakan kata 'globalisasi', saya semestinya sudah memahami arti kata ini sebelum memakainya. Jadi, pengetahuan saya atas globalisasi akan mewarnai cara saya menggunakan kata tersebut. Kalau pengetahuan saya tidak terlalu baik mengenai globalisasi, maka saya akan jarang menggunakan kata ini. Begitupun sebaliknya. (Tapi, jangan salah juga nih. Banyak di antara kita yang sering menggunakan kata globalisasi lho! Itu tuh, persis dilakukan oleh para kepala desa yang pengen dianggap pintar atau para calon kepala desa yang sok tahu dan biar dibilang keren. Hehe... Eh, maaf, hanya sebagian aja lagi. ;-) )

Kembali pada pertanyaan Ani, seekor kucing disebut dengan 'kucing' atau gajah disebut dengan 'gajah' ini karena kesepakatan. Walaupun ada banyak alternatif kata untuk kucing, seperti 'meong' atau 'puspus', tetapi kata 'kucing' lah yang dipilih oleh masyarakat sebagai istilah untuk hewan yang diberi nama kucing. Kalau masyarakat sepakat dengan kata 'gajah' untuk nama yang ditujukan bagi hewan yang sebenarnya bernama kucing, maka jadilah 'gajah' ini kata baru untuk hewan yang bernama kucing.

Dengan pertanyaan yang Ani ajukan, kita secara tidak langsung sebenarnya dibawa masuk pada ranah atau wilayah filsafat yang disebut dengan epistemologi dan sekaligus filsafat bahasa. Epistemologi adalah suatu cabang kajian utama dalam filsafat yang mempelajari bagaimana pengetahuan itu diperoleh, dibentuk, dan dipergunakan oleh manusia. Sedangkan filsafat bahasa, ini adalah cabang lain dari filsafat yang secara khusus mempelajari apa itu bahasa dan seluk-beluknya.

Oleh karena itu, pertanyaan mulai dari manakah kita harusnya belajar filsafat ditentukan oleh pertanyaan awal yang kita buat. Sebab, melalui pertanyaan yang kita buat akan menentukan arah kita belajar filsafat selanjutnya. Kita harus belajar apa dan mau ke mana kita menuju, semuanya kembali pada pertanyaan awal kita yang mendasar. Inilah yang mungkin dimaksud dengan directions in philosophy. So, buatlah satu pertanyaan terlebih dahulu yang paling menarik buat Anda sebelum belajar lagi filsafat bersama saya. ;-)




14 komentar:

m u t i i a mengatakan...

wah, kak.. keren banget penjelasannya tentang falsafah...

saya sebenarnya bukan mahasiswa dari falsafah tapi dunia psikologi tentu tak bisa lepas dari dunia falsafah ya...

saya dapat tugas dari dosen tentang faedah dan tugas falsafah..

jangankan mencari faedah dan tugasnya, makna dari falsafah sendiri saja saya tidak tahu...

penjelasan yang kakak beri mempermudahkan saya untuk memahami falsafah...

keren.
ternyata falsafah tidak serumit yang saya kira kalau saya mau berpikiran bebas dan kritis..

terimakasih ya...

pelajaran kakak memberi saya inspirasi untuk tugas... ^ ^

4im mengatakan...

makasih buat mutia untuk komentarnya. keep ur spirit to learn, ok? ;-)

Asmisya mengatakan...

Kang Aim,
kalo boleh saya usul gmn belajar filsafatnya lebih sistematis gitu. Anda mengatakan, ada tiga kajian dalam filsafat, sistematika, historis dan regional. apa dan bagaimana logika, epistimologi dan seterusnya, meskipun saya lebih tertarik belajar filsafat regional dan historis.

Ok, makasih Kang.
saya tunggu blog berikutnya...
o,ya, saya juga ada blog, Anda bisa kunjungi di www.kesunyiancinta.blogspot.com.

4im mengatakan...

makasih misya. u/ smntra, mmg blm tlht sistematis. sbb sy hrs mbrikn pngntar yg agk pjg sblm msuk k materi2 spt yg sy sbutkn. tnggu aj y? hehe...

Asmisya mengatakan...

kang Aim,
sip lah... Saya tunggu lho...
Masih sibuk kuliah ya? S2 atau S3?
dimana neh? (mau tahu...aja....)

m u t i i a mengatakan...

hehehe... makasih kak informasinya...

abay mengatakan...

kang.....
pekerjaan apa yang bakalan kita dapetin dr belajar filsafat, misalnya jd dosen ato jd apa...he.
kan kita belajar ujung-ujungnya buat profesi masa depan.

tasawuf mengatakan...

emm baguslah kalau gitu. aku pengen buat satu pertanyaan bagaimana proses kesepaktan itu dibentuk ? seperti kucing tadi kenapa gak disebut gajah?. dan kenapa kata kucing lebih populer daripada kata meong, puspus, dll. (khususnya di indonesia)
filsafat itu mudah kok. jika ketemu yang mudah (wealah tapi angele poul jika pas seng angel.
belajar filsafat secara sistematis malah gak asyik menututku. sebab bisa ngebosenin. mending belajar filsafat itu belajar yang kita sukai dan kita ingin memperdalaminya. gitu.
kalau kita belajar secara sistematis mungkin gak akan selesai-selesai wong satu tema saja penjelsannya bisa panjaaaang bgt. he he he

4im mengatakan...

> abay: kalo bicara pekerjaan, pelajaran filsafat memberi kontribusi tidak langsung. sebab, rata2 keahlian filsuf, ada di keahlian untuk menganalisis sesuatu sampai mendalam. kalau pekerjaan yang cocok bila seorang berlatar belakang sarjana filsafat adalah sebagai penulis dan dosen. walaupun demikian, george soros yang berlatang belakang filsafat dan juga muridnya karl popper, juga sangat ahli dalam bisnis keuangan. ^_^
> tasawuf: kesepakatan prosesnya sama dengan rapat. ada beberapa usulan, debat, sampai ada keputusan.
untuk kata kucing, mungkin, ini menjadi kata baku karena kata kucing adalah istilah melayu untuk hewan yang dimaksud. penyebutan hewan lebih disukai tidak menggunakan nama bunyi yang dikeluarkannya. jadi, orang tidak menggunakan kata puspus atau meong.
untuk pola belajar, tidak ada yang menjadi satu acuan resmi ko. kalau senang belajar secara sporadis/ tidak sistematis, itu juga ga masalah. tetapi untuk pemula, sebaiknya bertahap. takutnya bingung sehingga menjadi frustasi dalam belajar. ^_^

Medi Bilem mengatakan...

mas Aim..

klo pertanyaan yg menarik medi adalah " ngapain ya saya mesti ada, perasaan saya nggak milih tuk ada? "

dan pertanyaan ini membawa saya ke banyak hal, termasuk ke blog anda ini..

tanpa bermaksud meremehkan ide2 tertentu, tapi jawaban agama kok ndak bisa muasin saya ya?

bukan soal kucing dan gajah, globalisasi dan lurah genit :)yang menarik saya dlm tulisan anda kali ini, tapi judul tulisan itu yang benar-benar excited bagi saya

MAU KE MANA??

pertanyaan pendek dg jawaban sepanjang umur kukira...

thaks a lot

4im mengatakan...

> medi: ya kira2 begitu lah. pertanyaan Anda ibarat pertanyaan oleh sophie dalam dunia sophie. jawabannya sederhana, "kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita". tapi bagi saya, walaupun ini penting, lebih penting lagi menjawab pertanyaan "siapakah kita" dalam konteks "mau ke mana". ^_^

ikuti kami ,,,agamamu mati mengatakan...

kenapa aku harus bertanya sedangkan pertnyaan itu selalu menanyaiku?

pertanyaan mendasar yang melingkar bisa membongkar hal hal yang dulu tidak dilihat

muklis mengatakan...

mas,,klo pertanyaan saya tentang "apa yang akan terjadi di masa depan?" atau mungkin "bisa engga kita merubah masa depan?"
makasi maaas :)

Ninda Argafani mengatakan...

@muklis

Bismillah
saya mencoba menjawab sepemahaman saya, dengan ilmu filsafat rendah saya semoga membantu.

bicara masa depan berarti bicara mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Dalam hidup yang ada dan yang mungkin ada bisa kita sebut (saya sendiri terutama) sebagai awal dan akhir.
Masa depan mas muklas dan saya tidak akan pernah dapat kita menguak misterinya. hanya yang dapat kita lakukan adalah berusaha menjadi manusia yang lebih baik dunia akhirat dengan begitu masa depan yang kita inginkan (yang ada dan yang mungkin) ada dapat kita temui dengan bahagia (yaitu apa yang kita inginkan berakhir dengan indah).

Kesimpulannya adalah bahwa yang ada dan yang mungkin ada bisa bergantian atau berubah. yang tadinya akan ada bisa menjadi ada, dan yang tadinya tidak akan ada bisa menjadi ada. Jadi mas muklas, berusahalah dengan sungguh-sungguh karena masa depan dapan berubah sewaktu-waktu dan itu tergantung di tangan kita.

sebagai penutup, setinggi-tingginya bahasa analogku, tidak akan pernah mampu menyampaikan apa yang ada dipikiranku.

Maaf jika ada salah kata, masih sebatas ini pemahaman filsafat saya. mohon koreksi dari sang ahli mas baim :)