21 April 2010

Logika (7), Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan

Selamat jumpa lagi semuanya ...!


Kali ini saya masih membahas soal logika. Namun, tidak akan memperkenalkan jenis logika lainnya. Saya hanya ingin menjelaskan kembali beberapa hal pokok, yang berkaitan dengan materi utama pembahasan logika. (Waduh, formal banget nih bahasanya! ^_^ )

Materi pembahasan logika yang terutama, seperti saya pernah bahas dalam uraian yang berjudul Pengantar dan Materi Pembahasan, terdiri dari tiga hal: (1) sejarah dan aliran, (2) istilah, dan (3) pernyataan. Dua materi (materi ke-1 dan ke-2), sudah saya singgung sedikit dalam pembahasan lainnya yang terdahulu. Namun, saya memang belum akan menyinggung pembahasan aliran dalam logika karena yang ini agak teknis bin ribet. (nah lho, apa nih maksudnya? :-? )

Sengaja, dalam posting kali ini, saya akan membahas materi ke-2 dan ke-3 saja. Uraian mengenai materi ke-2, akan kita coba bahas apa bedanya "kata" (word) dan "istilah" (term). Sedangkan dalam membahas materi ke-3, kita akan bahas apa bedanya "kalimat" (sentence) dan "pernyataan" (proposition). Langsung kita mulai aja yuk? :-)

Kata dalam bahasa Indonesia memang bisa dipahami sebagai sesuatu yang menjadi unsur pembentuk bahasa. Misalnya, ada kata: "miskin". Kata ini akan berarti, hanya jika kata ini digabungkan dengan kata lain atau dengan tanda bahasa yang mendukung.

Misalnya, "Oohh ... , miskin ya?" atau, "Miskin ...?"

Pada kalimat pertama, kata miskin bisa berarti dua hal. Hal ini menunjukkan ungkapan ketidaktahuan seseorang tentang keadaan sebelumnya yang bersangkutan dengan pengertian "miskin" itu sendiri. Kedua, ungkapan yang bernada merendahkan dapat menjadi ungkapan seseorang yang berhadapan dengan keadaan seseorang yang memang "miskin".

Untuk kalimat kedua, kita akan mengerti kalau kata "miskin" di situ akan berarti pertanyaan. Juga bisa berarti ungkapan ketidakpercayaan.

Demikianlah, cara kita memahami "miskin" sebagai sebuah kata.

Walaupun begitu, "miskin" juga bisa berarti istilah. Artinya, "miskin" diberikan pengertian yang bersifat khusus dan akan dipahami secara berbeda dalam bidang tertentu. (Bandingkan uraian ini dengan apa yang sudah diperjelas oleh Pusat Bahasa)

Misalnya, dalam agama Islam, ada ungkapan:
"Kemiskinan itu akan mendekatkan seseorang pada penolakan beragama".
Pun dalam agama Kristiani, khususnya kaum Protestan, memiliki keyakinan:
"Kemiskinan itu harus ditolak, karena kalau kita kaya di dunia ini, maka kita akan kaya pula di Surga".
Tapi tidak begitu dalam agama Budhis. Ini tersirat dalam keyakinan:
"Dengan menjadi pengemis, maka seseorang akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya".
(untuk uraian dalam agama ini, mohon maaf kalau misalnya ada kekeliruan. ralat akan dilakukan apabila ada yang keberatan. ^_^ )

Masuk pada bidang sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, "miskin" memiliki satu pengertian yang kompleks atau amat luas. Istilah ini dapat diartikan macam-macam, sesuai dengan "maksud", "tujuan", atau "kepentingan" yang ada dalam penggunaan "miskin" itu.
Misalnya, ketika ditetapkan Millenium Development Goals oleh masyarakat dunia, khususnya oleh PBB, "kemiskinan itu harus dapat diatasi pada tahun 2015" adalah slogan yang membawa dampak politis yang luar biasa. Masing-masing negara, tentunya akan membuat kebijakan ekonomi yang mengarah pada tujuan tersebut. Begitu juga para politisi akan memakai ini sebagai bagian dari kampanye.
Selain itu, hal ini juga beraspek budaya, karena "miskin" lalu dikaitkan dengan sikap hidup manusianya. Pun berhubungan dengan sosial, karena "miskin" tidak mungkin berada di luar konteks bermasyarakat.

Nah, dengan penjelasan yang serba sedikit, kita mungkin dapat membayangkan seperti apa bedanya kata dan istilah. Hal ini sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengartikannya, atau bagaimana kita mendefinisikannya. Semakin teknis suatu kata didefinisikan, maka kata itu secara langsung akan menjadi istilah.

Lalu, terkait dengan apa yang disebut dengan kalimat dan pernyataan, kita dapat membedakannya secara mudah sebenarnya. Misalnya dalam contoh di bawah ini.

1. "Adik makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."
2. "Adik itu makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."

Contoh 1 ini merupakan kalimat lengkap, karena ada S+P+O+K ("Adik" = Subjek + "makan" = Predikat + "nasi goreng" = Objek + "sebelum berangkat sekolah" = Keterangan).
Contoh 2 ini merupakan pernyataan, serta terdiri dari S+K+P ("Adik" = Subjek + "itu" = Kopula + "makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah" = Predikat)

Dengan memperhatikan contoh tersebut, kita dapat mengenali bahwa kalimat dan pernyataan hanya berbeda tipis saja, yaitu dibedakan dengan kata "itu". Dalam bahasa Inggris, kata "itu" yang dimaksud sebenarnya adalah kata "is", yang artinya "adalah" itu sendiri. Secara lebih jauh, ciri yang membuat pernyataan itu dibedakan dari kalimat adalah sisi pengujiannya. Kalimat (1) di atas, tidaklah perlu diuji isinya benar ataupun tidak karena sudah memenuhi syarat kalimat lengkap. Sedangkan dalam pernyataan (2), hal ini perlu dibuktikan kembali apakah isinya benar atau salah, khususnya untuk fakta yang ada pada Predikat dari pernyataannya tersebut. (lihat kembali pembahasan saya untuk masalah formal dan material dalam logika dalam artikel ini.)

Jadi, kalau kita boleh mengambil kesimpulan secara singkat, kalimat yang benar hanya membutuhkan sisi pengujian atas susunannya, sedangkan pernyataan yang benar hanya akan benar bila teruji sisi susunannya (formal) maupun sisi isi yang terkandung di dalamnya (material).

Nah, dengan kesimpulan yang terakhir tadi ini, saya bisa menutup artikel mengenai kata dan istilah, serta kalimat dan pernyataan, dengan baik dong. Kan dah ada kesimpulannya tuh ...! :-p
Sampai jumpa dalam posting mengenai logika yang selanjutnya.

14 komentar:

Filsuf Yunani mengatakan...

keren

Filsuf Yunani mengatakan...

Hai, semua pa kabar ?
Aku haru ini gak belajar filsafat dulu soalnya aku masih cari-cari gambar-gambar yang bagus gitu.

Salam
Filsuf Yunani

Filsuf Yunani mengatakan...

Hai, semua ni sekarang lagi buka bogger tentang filsafat terima kasih sudah menjadi salah satu dari bagian hidupku. Ok

4im mengatakan...

makasih Filsuf Yunani, semoga anda masih tetap memiliki minat atas blog ini. maaf, karena saya belum sempat menulis posting lagi. ^_^

loodec mengatakan...

ngomong2 mengenai logika ada satu yg menggelitik,beberapa waktu lalu saya nonton dialog di tv tentang legalisasi judi. Salah seorang narasumber berargumen judi hanya diharamkan oleh agama Islam makanya judi bisa saja di legalisasi.

Memang benar judi hanya diharamkan agama Islam karena istilah haram hanya ada di Islam, tapi judi juga dilarang dalam agama lainnya.

Menurut anda bagaimana logika yg seperti itu ...

Filsuf Yunani mengatakan...

tolong dipercepat ya bikin blog ya\g baru coalx Q dah nunggu, ok.

Puri mengatakan...

Kunjungan pertama langsung melompat ke chapter 7 :

Mungkin gampangannya :
kata = menggambarkan
istilah = mengartikan

Benarkah?

Thanks & salam kenal ^_^

winterwing mengatakan...

lalu ada bedanya dengan pernyataan?
klaim?

Filsuf Yunani mengatakan...

sebenarnya terbang sambil membuat sayap apa salah satu dari kalimat filsafat ???/

Filsuf Yunani mengatakan...

4im cepetan dong blognya yang baru dah gak sabar nih.....!!!!!

4im mengatakan...

> loodec: soal legalisasi ini berkaitan dengan hukum positif. sementara, soal larangan berjudi, ini berhubungan dengan hukum agama. ketika seorang berpendapat demikian, ia berarti memisahkan antara hukum positif di satu sisi dengan hukum agama di sisi lain. inilah yang namanya proses sekularisasi.
kalau dasarnya ia adalah orang yang sekular, maka akan sangat logis bila ia berpendapat demikian. karena ia memisahkan antara urusan negara dengan urusan agama.
> puri: maaf, karena anda langsung lompat ke chap 7. ini karena sistem blogger. insyaallah, akan segera saya perbaiki sistem navigasi blognya. ^_^
kata & istilah = tanda.
kata = pengertian umum.
istilah = pengertian khusus.
> winterwing: saya sudah jelaskan di posting.
kata -> istilah
kalimat -> pernyataan
kalau klaim, ini adalah jenis pernyataan yang mengandung pengertian kepemilikan.
misalnya:
tanah itu punya saya
> filsuf yunani: terbang sambil membuat sayap hanya satu jenis metafora atau kiasan berbahasa. maknanya memang berisi sesuatu yang berhubungan dengan filsafat. karena kita dapat membuat tafsiran atas metafora ini sebagai "perbuatan mendahului alat atau konsep".
selamat membaca posting yang baru ^_^

sd negeri kamal mengatakan...

mas 4im saya dari dulu saya ingin sekali belajar filsafat. blog ini sangat membantu

saya menyadari, apa yg saya dapat di fakultas saya tidak ada apa2nya dengan apa yang di ajarkan di fakultas sebelah selatan fakultas saya dimana saya selalu parkir motor.
saya anak fh mas

4im mengatakan...

> sd negeri kamal: bukan tidak apa2nya saya kira. Anda belajar hukum mungkin lebih fokus. meskipun yang Anda pelajari tidak akan sama dengan belajar filsafat, tetapi Anda dapat mempelajarinya kembali dengan berfilsafat ^_^

Hana Angela mengatakan...

Berarti kata itu mempunyai arti kalau dimasukkan dalam kalimat. Kalo istilah, punya arti khusus walau berdiri sendiri. Begitukah?