<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501</id><updated>2012-01-24T14:09:09.072+07:00</updated><category term='Pengantar'/><category term='Metodologi'/><category term='Cabang Filsafat'/><category term='Logika'/><title type='text'>Belajar Filsafat</title><subtitle type='html'>Ini adalah blog yang dibuat khusus untuk belajar filsafat secara mudah. Materinya terdiri dari tiga kajian utama, yaitu: Filsafat Sistematik, Filsafat Historis, dan Filsafat Regional. 

Filsafat Sistematik terdiri dari kajian seperti Logika, Epistemologi, Aksiologi, Ontologi, dan cabang lainnya. Filsafat Historis mencakup rentang waktu sebelum Masehi hingga Abad XX. Sedangkan untuk Filsafat Regional, ini akan terbagi menjadi Filsafat Barat, Islam, Cina, India, dan Nusantara.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-2715919012650983859</id><published>2011-10-14T18:19:00.002+07:00</published><updated>2011-10-14T18:24:04.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (10), Tiga Prinsip Dasar Pengolahan Istilah dan Pernyataan</title><content type='html'>Kira-kira, dalam artikel ini sebaiknya dibahas apalagi ya? Bingung juga sih. Soalnya, kalo kita belajar logika, tambah maju belajarnya, biasanya suka bertambah teknis materinya. So, kemungkinan mempelajari logika dengan mudah akan banyak hambatannya. Kecuali otaknya lagi tokcer bukannya encer. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau saya gak salah memahami, adalah penting untuk terlebih dahulu mengerti kenapa logika hanya fokus kepada dua pokok masalah saja, yaitu: istilah dan pernyataan. Ini karena dua objek tersebut mewakili pengetahuan seseorang atas sesuatu hal (berkaitan dengan istilah dan definisinya) dan sikap seseorang atas sesuatu hal (bersangkutan dengan pernyataan dan kesimpulannya). Sebab, bila seseorang dapat membuat suatu definisi yang baik dari suatu istilah, dapat dipastikan bahwa ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai apa yang dimaksud oleh istilah tersebut. Sedangkan berkenaan dengan sikap seseorang, ini akan dapat dilihat dalam apa yang diungkapkan melalui pernyataannya tersebut. Misalnya, ketika seseorang, sebutlah Nita dan Toto berdiskusi mengenai apa yang disebut dengan katak, maka keduanya akan melakukan diskusinya kira-kira seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Nita: "To, apa sih bedanya katak sama kodok? Tahu ga? Aku bingung nih kalo harus bedain."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Toto: "Apa ya bedanya? (Sambil garuk2 kepala ga jelas) Mungkin, kalo katak tuch yang badannya kurus, sedangkan kodok badannya gemuk. Memang kenapa Nit?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Nita: "Ini, lagi dapet tugas untuk mendeskripsikan katak dan kodok untuk pelajaran biologi. Hmmm ... mungkin bener juga ya? Tapi apa sih perbedaan lainnya?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Toto: "Kalo kodok, aku tahunya cuma kulitnya itu totol, agak kasar, terus warna kulitnya agak gelap. Sedangkan katak, kulitnya licin dan warna kulitnya agak terang."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Nita: "Oh ... begitu ya? Berarti kodok tuh mirip Toto dong. Kan ... kulitnya gelap gitu. Hihi ..."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Toto: "Aduh, mentang-mentang aku kulitnya item, kamu samain aku sama kodok. Awas ya, ta cubit nih ...!"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Toto mengejar Nita yang sudah kabur duluan sebelum Toto sempat mencubitnya ...&lt;/blockquote&gt;Ilustrasi di atas ini memperlihatkan beberapa hal yang dapat dikenali oleh kita sebagai istilah dan juga pernyataan. "Katak" dan "kodok" adalah dua istilah yang menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi di atas. Sedangkan pernyataannya, dapat dibaca dalam:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Aku bingung nih kalo harus bedain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Katak tuch yang badannya kurus, sedangkan kodok badannya gemuk. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hmmm ... mungkin bener juga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aku tahunya cuma kulitnya itu totol, agak kasar, terus warna kulitnya agak gelap.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kulitnya licin dan warna kulitnya agak terang. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berarti kodok tuh mirip Toto dong.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pernyataan-pernyataan ini boleh dikata sebagai pernyataan informal atau tidak baku.Sebab, kalau kita mencoba untuk mengkategorikannya dalam format pernyataan yang sudah kita bahas dalam artikel sebelumnya, tidak ada satu pernyataan di atas yang memenuhi pola pernyataannya. Apalagi dalam pernyataan terakhir, bagaimana mungkin Nita mengambil kesimpulan kalo Toto itu mirip dengan kodok? Ini adalah sebuah &lt;i&gt;fallacy&lt;/i&gt; atau sesat pikir kalo kita menggunakan pola pikir yang logis. Namun, karena kita paham bahwa ini adalah suatu bentuk percandaan, maka kita tidak akan mempermasalahkannya dan hanya akan tersenyum saat membacanya. (Mohon maaf, untuk pembaca yang bernama sama, bukan dimaksudkan kepada Anda lho! Tapi, kalo merasa, berarti Anda hanya terlalu geer. ^_^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita ini pula, kita sebenarnya dapat mengenali pula prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam proses pengolahan istilah selain definisi. Meskipun begitu, prinsip-prinsip ini sebenarnya juga dipakai dalam pembuatan definisi. Sehingga, boleh dikata, ini adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan dalam proses pengolahan istilah secara umum. Lalu, kira-kira, apa saja sih prinsip dasar yang dimaksud? (Iya, cepet dong sebutin! Dah ga sabar alias kebelet pengen tahu! :-p )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar pertama adalah persamaan. Sesuatu hal dapat dikenali memiliki kemiripan dengan sesuatu yang lainnya karena ada persamaan di antara keduanya. Dalam contoh pembuatan definisi dengan &lt;i&gt;predicable&lt;/i&gt;, kita telah mengetahui bahwa manusia dan kera memiliki persamaan di antara keduanya. Manusia dan kera sama-sama melahirkan dalam proses akhir perkembangbiakannya dan juga sama-sama menyusui dalam proses pembesaran anak-anaknya. Bila mengambil contoh pada cerita di atas, katak dan kodok juga memiliki persamaan. Di antara persamaan yang ada, katak dan kodok sama-sama memiliki kaki dengan selaput di antaranya, mampu hidup di dua alam (amfibia), dan memiliki lidah yang lentur untuk menangkap mangsanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah prinsip dasar pertama ini, prinsip dasar kedua yang dipakai adalah prinsip perbedaan. Apa yang berbeda dari yang dimiliki manusia dan kera seperti dibahas dalam definisi dengan &lt;i&gt;predicable&lt;/i&gt; jelas merupakan contoh penerapan yang paling jelas dari prinsip ini. Hal yang sama juga dapat ditemui dalam contoh cerita di atas. Apa yang dibicarakan Nita dan Toto adalah perbedaan yang dapat dikenali oleh mereka berdua sehingga mereka dapat "memilah" katak dan kodok dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terakhir, prinsip dasarnya adalah prinsip keberhubungan. Sesuatu hal akan dapat diketahui dengan baik kalau kita dapat membandingkannya dengan hal lain. Tentunya, akan lebih baik lagi bila kita juga dapat mengenali hubungan antara sesuatu hal tersebut dengan sesuatu hal lainnya yang kita bandingkan itu. Kira-kira, contohnya bagaimana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, dalam contoh definisi dengan &lt;i&gt;predicable&lt;/i&gt;, kita telah memperbandingkan manusia dan kera. Kita juga telah dapat mengenali persamaan dan perbedaannya. Lalu, apa yang dapat menghubungkan dua subjek ini? Dalam kondisi yang praktis, kita sering menggunakan persamaan untuk melihat hubungan di antara kedua hal yang sedang diperbandingkan, sebagaimana telah dilakukan dalam memperbandingkan manusia dan kera. Dari hal ini, kita akan mengatakan bahwa sesuatu itu "berhubungan" dengan sesuatu yang lainnya karena banyaknya persamaan yang keduanya miliki. Kalau kita mengenali perbedaannya terlalu jauh, kita seringkali mengatakan bahwa kedua hal tersebut tidak "berhubungan". Tetapi, apakah benar seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, kita ternyata tidak hanya memakai persamaan dalam menentukan hubungan sesuatu. Ini kita peroleh dalam contoh, hubungan antara kertas dan logam. Kertas dan logam tentu saja memiliki karakteristik yang berbeda dan cukup jauh untuk dipertautkan. Namun, ketika keduanya difungsikan sebagai "uang", maka keduanya dapat dianggap sama, walaupun sangat berbeda dari jenis materi dan karakteristiknya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, secara umum, kita akan dapat memahami kalau tiga prinsip dasar ini saling mengisi satu sama lain atau saling melengkapi dalam membantu pemahaman kita atas berbagai hal. Pengetahuan manusia terutama bertumpu pada penggunaan tiga prinsip dasar ini dan terungkap melalui istilah dan pernyataan. Apa yang kita tahu tergambar dalam penjelasan kita atas sesuatu istilah dan sikap kita atas sesuatu tercermin dalam pernyataan yang kita buat seperti terdapat dalam contoh-contoh yang telah dikemukakan. Inilah elemen-elemen terpenting dari pengetahuan manusia. Lalu, apakah Anda setuju dengan pendapat saya ini? Kalau tidak, silahkan ungkapkan pikiran Anda. Jangan ragu untuk tidak sependapat ... ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-2715919012650983859?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/2715919012650983859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=2715919012650983859' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/2715919012650983859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/2715919012650983859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2011/10/logika-10.html' title='Logika (10), Tiga Prinsip Dasar Pengolahan Istilah dan Pernyataan'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-536261726261778551</id><published>2011-09-25T11:55:00.002+07:00</published><updated>2011-09-26T13:13:09.315+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (9), Definisi dengan Predicable</title><content type='html'>Wah, telat lagi nih postingnya...!!! 1 tahun lagi telatnya. Gimana sih, kan udah janji?&lt;br /&gt;Iya, maaf dech, saya telat lagi bikin postingannya. Soalnya saya ini lagi sulit menulis, plus juga kesibukan lainnya. Pokoknya plus-plus dech. Hehe...&lt;br /&gt;Tapi, sekarang ini dah lumayan ok ko situasinya. Buktinya, postingan baru dah siap untuk Anda baca dalam blog ini. Selamat membaca ya? Jangan takut juga, kalau sudah lupa dengan isi posting sebelumnya, silahkan baca melalui link yang saya sediakan di arsip ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan pembahasan istilah yang disebut dengan definisi pada posting sebelumnya, kita dapat membuat definisi dengan cara yang lebih rinci daripada yang sudah dijelaskan. Ini diperoleh dengan memahami apa yang disebut dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;predikat&lt;/span&gt; secara lebih jauh. (Untuk pembahasan predikat ini, lihat dan baca kembali dalam artikel sebelumnya yang berjudul &lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.belajar-filsafat.com/2010/04/logika-7-kata-dan-istilah-kalimat-dan.html"&gt;Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat ini kalau dalam penguraian artikel saya yang terdahulu adalah bagian penjelasan yang terletak setelah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kopula&lt;/span&gt; dalam suatu pernyataan. Jika dibandingkan dengan uraian yang ada pada definisi, maka kita dapat mengatakan bahwa predikat ini akan sama dengan yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt;. Nah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt; ini sendiri dapat dibagi menjadi beberapa unsur pembentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt;. Unsur-unsur inilah yang nantinya diberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predicable&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Predicable&lt;/span&gt; itu sendiri tidak lain daripada predikat yang diterapkan untuk memahami subjek yang hendak diuraikan. Subjek tersebut dalam definisi adalah yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiendum&lt;/span&gt;. Ada banyak predikat yang dapat diterapkan untuk membuat subjek lebih dapat dipahami. Aristoteles memiliki pembagian yang cukup lengkap mengenai predikat apa saja yang harus ada dalam mengurai penjelasan atas suatu subjek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karyanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Topica&lt;/span&gt;, Aristoteles telah membagi jenis predikat menjadi 5 macam, yaitu: definisi (Yunani,&lt;i&gt; horos&lt;/i&gt;), genus (Yunani, &lt;i&gt;genos&lt;/i&gt;), diferensia (Yunani, &lt;i&gt;diaphora&lt;/i&gt;), &lt;span class="mw-redirect"&gt;properti&lt;/span&gt; (Yunani, &lt;i&gt;idion&lt;/i&gt;), dan aksiden (Yunani, &lt;i&gt;sumbebekos&lt;/i&gt;). (Baca juga artikel mengenai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predicable&lt;/span&gt; ini dalam &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Predicables"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;)  Ia kemudian mengatakan kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definisi&lt;/span&gt; itu adalah predikat yang berupa "esensi" atau hakikat dasar dari subjek yang dibicarakan. (Topica: 101b; 35-40) Misalnya, hakikat dasar manusia adalah berpikir. Maka berpikir adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definisi&lt;/span&gt; dari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, beralih pada istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;. Istilah ini memiliki pengertian sebagai predikat dari sejumlah subjek yang dapat menghadirkan perbedaan dalam beragam macamnya untuk subjek tersebut. Misalnya, ketika subjeknya itu adalah manusia, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;-nya adalah binatang. (Topica, 102a; 30-5) Pada konteks ini, binatang menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; manusia serta sekaligus dapat menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; untuk kera.  Ini karena manusia dan kera adalah sama-sama "subjek". Namun, manusia dan kera sama-sama menjadi subjek pada konteks ini adalah karena kita dapat melihat persamaan yang ada di antara keduanya. Jadi, secara sederhana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; adalah predikat yang dapat mencakup beberapa hal dengan melihat kesamaan yang ada di antara beberapa halnya itu. (Waks, ko si Arist bingungin yach? :-? )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;, kita sudah dapat melihat bahwa manusia dan kera dipertautkan di bawah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; binatang. Kini, menjadi penting untuk diperhatikan bahwa perbedaan perlu diberikan sebagai predikat yang dapat memisahkan antara manusia dan kera. Sebab, kalau manusia dan kera tidak dipilah dan dipisahkan, maka berabe jadinya. Kita, yang notabene manusia, masa sih mau disamakan dengan kera? (Iya nih, masa ane dibilang kera sih? Yang bener aje 0_0 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt; sebagai suatu predikat, perlu diterapkan dan ditambahkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;. (Topica, 101b; 15-20) Ini persis seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; dapat menghadirkan perbedaan. Perbedaan yang dimaksud tiada lain daripada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;. Dalam hubungannya dengan contoh yang diberikan untuk konteks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;, yaitu binatang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt; yang dapat ditambahkan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; binatang dengan subjek manusia dan subjek kera jelas akan memiliki kekhususan untuk masing-masingnya. Pada subjek manusia, diferensia yang dapat ditambahkan adalah "dapat menyusun pengetahuannya secara sistematis". Sedangkan untuk subjek kera, diferensianya adalah "dapat memperoleh pengetahuan melalui naluri, percobaan, dan juga pengalaman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt; untuk kera, kita dapat membaca bahwa keterangan yang serupa ini nampak mendekati pengertian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt; yang diberikan untuk manusia. Bedanya itu hanya tipis saja. Pada manusia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt; yang diberikan tekanannya terletak pada istilah "sistematis". Sedangkan pada kera, titik tekan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;-nya adalah istilah "naluri". Ini menjadi penting karena manusia dapat mengembangkan suatu ilmu dengan pengetahuannya yang sistematis, sedangkan kera tidak dapat mengembangkan pengetahuannya secara lebih jauh. (Hmm... Ini bener ga ya penjelasannya? [Garuk2 kepala ga jelas])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila perbedaan yang diberikan masih kurang jelas, masih dapat diberikan predikat tambahan yang dapat melengkapi keterangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;-nya. Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt;, predikat ini akan dapat melengkapi keterangan secara lebih jauh. Misalnya, manusia itu "memiliki kemampuan untuk belajar tata bahasa". Di sini, keterangannya dapat dibalik menjadi yang memiliki kemampuan untuk mempelajari tata bahasa adalah manusia. Melalui contoh ini, kita dapat mengatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; adalah predikat tambahan yang hanya dimiliki oleh subjek yang hendak diuraikan dan tidak dimiliki oleh subjek lainnya. (Topica, 102a; 15-25) Kalau misalnya ada predikat tambahan yang dimiliki pula oleh subjek lainnya, maka ini dapat disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; sementara. (Topica, 102a; 25-30) Misalnya, mengantuk adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; yang dapat dimiliki oleh manusia dan juga kera, serta binatang yang lainnya. Oleh karenanya, mengantuk adalah jenis dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; sementara. (Wah-wah, saya jadi mengantuk nih! Eit, jangan dong, kan belon selesai baca artikelnya ^_^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada tingkatan yang lebih jauh, kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; masih belum dianggap cukup dalam melengkapi keterangan untuk keterangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; beserta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;-nya, maka ada yang disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksiden&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aksiden&lt;/span&gt; ini berasal dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;accidit&lt;/span&gt; yang berarti "apa yang terjadi". Penjelasan yang diberikan Aristoteles untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksiden&lt;/span&gt; ini kurang begitu jelas, kecuali ia mengatakan bahwa aksiden itu adalah sesuatu yang bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;, maupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt;, namun masih merupakan predikat dari sesuatu yang hendak dijelaskan. (Topica, 102b; 01-10) Misalnya, dalam contoh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; di atas, kita mendapati contoh kalau manusia itu memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; "dapat mempelajari tata bahasa". Pada contoh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; ini, anggaplah kalau mempelajari tata bahasa itu masih kurang jelas maksudnya. Oleh karenanya, kita dapat menambahkan uraian mengenai cara-cara mempelajari tata bahasa sebagai contoh dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksiden&lt;/span&gt; yang akan melengkapi properti ini. Salah satu cara yang digunakan manusia untuk mempelajari tata bahasa adalah menyusun kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus. Dalam uraian kalimat yang terakhir, penyusunan kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus dapat menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksiden&lt;/span&gt; yang tepat untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;properti&lt;/span&gt; yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, kalau kita ringkaskan uraian dari Aristoteles ini, maka kita akan dapati penjelasannya melalui tabel di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;style type="text/css"&gt;.nobr br { display: none }&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="nobr"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" border="1" cellpadding="4" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;th colspan="1" align="center" bgcolor="#049dcc" width="20%"&gt;&lt;style="color:&gt;Predikat&lt;/style="color:&gt;&lt;/th&gt;&lt;br /&gt;&lt;th colspan="4" align="center" bgcolor="#049dcc" width="80%"&gt;&lt;style="color:&gt;Manusia&lt;/style="color:&gt;&lt;/th&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Definisi&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Berpikir&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Genus&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Hewan&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Diferensia&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Menyusun pengetahuan secara sistematis&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Properti&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Dapat mempelajari tata bahasa&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Aksiden&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Penyusunan kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada tabel di atas ini, kita memang dapat melihat sedikit lebih baik apa yang sudah disampaikan oleh Aristoteles secara ringkas. Namun, kita juga masih dibingungkan dengan hubungan antar predikat ini. Bagaimanakah caranya menggunakan kelima predikat ini dalam membuat suatu definisi yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban atas soal ini diberikan secara sangat baik oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Porphyry_%28philosopher%29"&gt;Porphyrius dari Tyre (234 - 305 M)&lt;/a&gt;. Ia mengadopsi pikiran yang telah dikembangkan madzhab Peripatetis dalam karyanya yang berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isagoge&lt;/span&gt; dan melengkapi apa yang sudah disampaikan oleh Aristoteles di atas dengan 1 predikat tambahan, yaitu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Species&lt;/span&gt;. Ia mengatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;species&lt;/span&gt; adalah predikat yang ada di bawah atau menjadi anggota dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;. (Isagoge, P.4-15) Pada contoh sebelumnya, telah disebutkan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; untuk manusia adalah hewan. Dalam kaitannya dengan ini, kita dapat menyebutkan bahwa manusia adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;species&lt;/span&gt; dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt; hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tambahan 1 predikat ini, sebenarnya kita sudah dapat menyusun pola pendefinisian berdasarkan pada predikat yang telah dijelaskan. Berikut adalah rumusan definisi dengan menggunakan elemen-elemen predikat yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="nobr"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" border="1" cellpadding="4" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;th colspan="1" align="center" bgcolor="#049dcc" width="20%"&gt;&lt;style="color:&gt;Definiendum&lt;/style="color:&gt;&lt;/th&gt;&lt;br /&gt;&lt;th colspan="4" align="center" bgcolor="#049dcc" width="80%"&gt;&lt;style="color:&gt;Definiens&lt;/style="color:&gt;&lt;/th&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Species&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Genus&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Diferensia&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Properti&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Aksiden&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Manusia&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Hewan&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;yang dapat menyusun pengetahuannya secara sistematis&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;dan bertata bahasa&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;melalui pola-pola penandaan yang khusus&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Inilah cara pembuatan definisi dengan menggunakan elemen-elemen yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predicable&lt;/span&gt;. Pada cara yang sangat sederhana, definisi yang dibuat dengan menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predicable&lt;/span&gt; hanya akan terdiri dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;species&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genus&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;. Sedangkan dua elemen lainnya hanya diperlukan untuk melengkapi keterangan yang dirasa kurang jelas pada penjelasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diferensia&lt;/span&gt;-nya. Mudah-mudahan, artikel ini akan membantu Anda semua membuat definisi yang baik. (Oh begini ya bikin definisi yang baik? Lumayan juga, jadi kelihatan strukturnya. ^_^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mungkin kita masih akan membahas persoalan di seputar logika dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Aristoteles, Topica, dalam W.D. Ross, (Ed.). 1928. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Works of Aristotle&lt;/span&gt;. Clarendon Press: Oxford.&lt;br /&gt;Porphyrius The Phoenician. 1975. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isagoge&lt;/span&gt;. Edward W. Warren (Trans.). The Pontifical Institute of Medieval Studies: Canada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-536261726261778551?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/536261726261778551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=536261726261778551' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/536261726261778551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/536261726261778551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2010/09/logika-9.html' title='Logika (9), Definisi dengan Predicable'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-8799612758191395120</id><published>2010-09-14T19:28:00.001+07:00</published><updated>2010-09-14T22:27:49.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (8), Istilah dan Definisi</title><content type='html'>Sebelum membaca postingan saya yang baru, kali ini, marilah kita sama-sama berniat untuk saling memaafkan. Saya yakin telah membuat kesal para pembaca blog ini karena banyak ngilangnya. ^_^ Untuk itulah, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Juga tidak lupa, saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Semoga, penulis blog ini lebih rajin dari yang biasanya. (Nah lho, besok-besok ga boleh terlalu lama ya bikin postingnya? ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal logika, melanjutkan pembahasan terdahulu, kali ini saya ingin menelisik lebih jauh pada materi mengenai istilah dan pengolahannya. Mungkin dalam hati Anda semua bertanya, kenapa istilah itu harus diolah sedemikian rupa ya? Ini memang betul bahwa istilah juga perlu diolah dengan baik laiknya memasak nasi. Sebab, kalau menurut hemat saya, dunia filsafat ataupun dunia ilmu, bertumpu pada pengolahan istilah yang semakin lama semakin kompleks pengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;globe&lt;/span&gt; (dunia) dalam bahasa Inggris mendapatkan pengertian yang sangat kompleks ketika berubah menjadi istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;globalization&lt;/span&gt; (mendunia atau globalisasi). Bagi yang paham benar dengan pengertian istilah tersebut, pastilah ia akan memahami kompleksitas pengertiannya. Sebab, ini bukan hanya menyangkut pada semakin banyaknya orang yang berkunjung antar negara, tetapi juga berhubungan dengan kasus penyelundupan obat-obatan terlarang, masalah perusahaan multinasional, hubungan diplomatik, ataupun kompetisi internasional di bidang pendidikan, tenaga profesional, hingga teknologi militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, globalisasi mengandaikan semuanya itu dan juga soal-soal yang tidak saya sebutkan. Kita tidak dapat mereduksi atau memangkas pengertian istilah ini sebagai sesuatu yang sederhana seperti terkandung dalam pengertian "mendunia". Oleh karenanya, menjadi penting bila suatu istilah itu dipahami dengan baik. Supaya istilah ini dipahami dengan baik, kita harus mengolahnya dengan baik pula. Lalu, bagaimana caranya suatu istilah itu dapat diolah dengan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan istilah yang baik sebenarnya dilaksanakan dengan cara "membatasi pengertiannya". Atau, nama lain untuk pembatasan pengertian suatu istilah tiada lain daripada yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definition&lt;/span&gt; (definisi).  Dalam logika, pemberian definisi suatu istilah dipenuhi oleh dua unsur, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiendum&lt;/span&gt; (istilah yang hendak dibatasi pengertiannya) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt; (uraian tentang batasan untuk istilah yang dimaksud). Selain dua unsur yang telah disebutkan, suatu definisi harus memenuhi syarat-syarat seperti terurai di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Suatu definisi tidak boleh lebih atau kurang daripada pengertian dasar istilah yang didefinisikan.&lt;br /&gt;Misalnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manusia adalah hewan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Definisi istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manusia&lt;/span&gt; ini menjadi salah karena pengertian hewan melebihi pengertian manusia. Sebab, kata hewan dipakai juga untuk menyebut jenis yang lainnya dan bukan hanya manusia.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang samar-samar.&lt;br /&gt;Misalnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anjing adalah yang berkaki empa&lt;/span&gt;t.&lt;br /&gt;Definisi istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anjing&lt;/span&gt; di atas masih terlalu samar pengertiannya dan dapat tertukar dengan pengertian kucing atau kuda yang sama-sama memiliki empat kaki.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Definisi tidak boleh diberi istilah yang didefinisikan atau sinonimnya.&lt;br /&gt;Misalnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Binatang adalah hewan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;binatang&lt;/span&gt; merupakan kata lain yang sepadan (atau sinonim) untuk istilah hewan. Jadi, tidak dapat digunakan untuk membuat pengertian batasan yang dibutuhkan untuk istilah binatang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bentuk negatif apabila masih mungkin dinyatakan dalam bentuk positif.&lt;br /&gt;Misalnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah adalah tidak benar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Dalam definisi istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;salah&lt;/span&gt;, pengertian tidak benar merupakan pengertian yang tidak menjelaskan pengertian salah itu sendiri. Kita sudah mengetahui bila salah akan berarti tidak benar. Jadi, definisi ini merupakan suatu definisi yang buruk karena tidak memberikan pengertian yang baik tentang istilah salah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Catatan: &lt;br /&gt;Referensi untuk syarat definisi diambil dari buku Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, 2001, Pengantar Logika Tradisional, cet. VII, Putra A. Bardin, Bandung, hal. 27-8. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suatu definisi memenuhi dua unsur dan keempat syarat yang telah disebutkan, maka istilah yang didefinisikan menjadi sah dalam pengujian logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami lebih jauh penerapannya, kita akan menerapkan aturan definisi ini dalam membuat suatu pengertian yang baik untuk istilah globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;style type="text/css"&gt;.nobr br { display: none }&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="nobr"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" border="1" cellpadding="4" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td bgcolor="#23334a" align="center" width="20%"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Definiendum&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td bgcolor="#23334a" align="center" width="80%"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Definiens&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="center" width="20%"&gt;Globalisasi&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td align="left" width="80%"&gt;Proses interaksi antar negara maupun warga negaranya yang mengakibatkan perubahan mendasar pada budaya dan orang-orang yang ada pada masing-masing wilayah negara yang berinteraksi.&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus pendefinisian istilah globalisasi di atas ini, kita mendapati bahwa uraian tentang istilah itu mengambil titik tekan pada interaksi antar negara dan juga antar warga negara. Namun, pengertian istilah ini menjadi semakin jelas ketika ada efek yang dihasilkan dari jenis interaksi tersebut yang berpengaruh pada budaya maupun orang-orang yang hidup di negara yang melakukan interaksi tersebut. Definisi ini memenuhi semua syarat yang diajukan di atas kalau Anda memperhatikannya secara seksama. Sebab, pengertian globalisasi menjadi proses interaksi antar negara maupun warga negara secara umum tidak melebihi pengertian globalisasi yang dasar, uraian tentang istilah globalisasi dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt; tidak samar, tidak ada pengulangan istilah globalisasi dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt;, dan definisi di atas tidak dinyatakan dalam bentuk negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, mungkin ada orang yang berkeberatan mengenai isi dari pengertian globalisasi di atas. Atas keberatan yang serupa ini, sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipertimbangkan dalam konteks logika. Sebab, suatu definisi dapat saja memiliki pengertian yang berbeda sesuai titik tekan yang dipilihnya. Masalah utama dan yang paling mendasar sebenarnya terletak pada apakah definisi yang dibuat sudah memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan atau belum dan bukan pada isi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;definiens&lt;/span&gt; yang dapat berisi penguraian yang bermacam-macam pengertiannya sesuai dengan keinginan si pembuat definisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan dari saya untuk istilah dan pengolahannya melalui definisi. Pada posting yang selanjutnya, saya masih akan membahas bagaimana definisi ini dibuat dengan mempertimbangkan unsur-unsur lain dalam apa yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predikat&lt;/span&gt;. Sampai ketemu lagi dalam posting selanjutnya. Tetap semangat ya untuk belajar filsafat! ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-8799612758191395120?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/8799612758191395120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=8799612758191395120' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8799612758191395120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8799612758191395120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2010/05/logika-8.html' title='Logika (8), Istilah dan Definisi'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-5212125952018064854</id><published>2010-04-21T17:32:00.001+07:00</published><updated>2010-04-21T17:33:18.006+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (7), Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan</title><content type='html'>Selamat jumpa lagi semuanya ...!&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kali ini saya masih membahas soal logika. Namun, tidak akan memperkenalkan jenis logika lainnya. Saya hanya ingin menjelaskan kembali beberapa hal pokok, yang berkaitan dengan materi utama pembahasan logika. (Waduh, formal banget nih bahasanya! ^_^ )&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Materi pembahasan logika yang terutama, seperti saya pernah bahas dalam uraian yang berjudul&lt;a href="http://www.belajar-filsafat.com/2009/01/logika-1.html"&gt; Pengantar dan Materi Pembahasan&lt;/a&gt;, terdiri dari tiga hal: (1) sejarah dan aliran, (2) istilah, dan (3) pernyataan. Dua materi (materi ke-1 dan ke-2), sudah saya singgung sedikit dalam pembahasan lainnya yang terdahulu. Namun, saya memang belum akan menyinggung pembahasan aliran dalam logika karena yang ini agak teknis bin ribet. (nah lho, apa nih maksudnya? :-? )&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sengaja, dalam posting kali ini, saya akan membahas materi ke-2 dan ke-3 saja. Uraian mengenai materi ke-2, akan kita coba bahas apa bedanya "kata" (&lt;i&gt;word&lt;/i&gt;) dan "istilah" (&lt;i&gt;term&lt;/i&gt;). Sedangkan dalam membahas materi ke-3, kita akan bahas apa bedanya "kalimat" (&lt;i&gt;sentence&lt;/i&gt;) dan "pernyataan" (&lt;i&gt;proposition&lt;/i&gt;). Langsung kita mulai aja yuk? :-)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata dalam bahasa Indonesia memang bisa dipahami sebagai sesuatu yang menjadi unsur pembentuk bahasa. Misalnya, ada kata: "miskin". Kata ini akan berarti, hanya jika kata ini digabungkan dengan kata lain atau dengan tanda bahasa yang mendukung. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya, "Oohh ... , miskin ya?"  atau, "Miskin ...?" &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada kalimat pertama, kata miskin bisa berarti dua hal. Hal ini menunjukkan ungkapan ketidaktahuan seseorang tentang keadaan sebelumnya yang bersangkutan dengan pengertian "miskin" itu sendiri. Kedua, ungkapan yang bernada merendahkan dapat menjadi ungkapan seseorang yang berhadapan dengan keadaan seseorang yang memang "miskin".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk kalimat kedua, kita akan mengerti kalau kata "miskin" di situ akan berarti pertanyaan. Juga bisa berarti ungkapan ketidakpercayaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikianlah, cara kita memahami "miskin" sebagai sebuah kata.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Walaupun begitu, "miskin" juga bisa berarti istilah. Artinya, "miskin" diberikan pengertian yang bersifat khusus dan akan dipahami secara berbeda dalam bidang tertentu. (Bandingkan uraian ini dengan apa yang sudah diperjelas oleh &lt;a href="http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Pembentukan_Istilah"&gt;Pusat Bahasa&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya, dalam agama Islam, ada ungkapan:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Kemiskinan itu akan mendekatkan seseorang pada penolakan beragama".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pun dalam agama Kristiani, khususnya kaum Protestan, memiliki keyakinan:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Kemiskinan itu harus ditolak, karena kalau kita kaya di dunia ini, maka kita akan kaya pula di Surga".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi tidak begitu dalam agama Budhis. Ini tersirat dalam keyakinan:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Dengan menjadi pengemis, maka seseorang akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(untuk uraian dalam agama ini, mohon maaf kalau misalnya ada kekeliruan. ralat akan dilakukan apabila ada yang keberatan. ^_^ )&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Masuk pada bidang sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, "miskin" memiliki satu pengertian yang kompleks atau amat luas. Istilah ini dapat diartikan macam-macam, sesuai dengan "maksud", "tujuan", atau "kepentingan" yang ada dalam penggunaan "miskin" itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya, ketika ditetapkan &lt;i&gt;Millenium Development Goals&lt;/i&gt; oleh masyarakat dunia, khususnya oleh &lt;a href="http://www.un.org/millenniumgoals/"&gt;PBB&lt;/a&gt;, "kemiskinan itu harus dapat diatasi pada tahun 2015" adalah slogan yang membawa dampak politis yang luar biasa. Masing-masing negara, tentunya akan membuat kebijakan ekonomi yang mengarah pada tujuan tersebut. Begitu juga para politisi akan memakai ini sebagai bagian dari kampanye. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu, hal ini juga beraspek budaya, karena "miskin" lalu dikaitkan dengan sikap hidup manusianya. Pun berhubungan dengan sosial, karena "miskin" tidak mungkin berada di luar konteks bermasyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, dengan penjelasan yang serba sedikit, kita mungkin dapat membayangkan seperti apa bedanya kata dan istilah. Hal ini sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengartikannya, atau bagaimana kita mendefinisikannya. Semakin teknis suatu kata didefinisikan, maka kata itu secara langsung akan menjadi istilah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu, terkait dengan apa yang disebut dengan kalimat dan pernyataan, kita dapat membedakannya secara mudah sebenarnya. Misalnya dalam contoh di bawah ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. "Adik makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. "Adik itu makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh 1 ini merupakan kalimat lengkap, karena ada S+P+O+K ("Adik" = Subjek + "makan" = Predikat + "nasi goreng" = Objek + "sebelum berangkat sekolah" = Keterangan).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh 2 ini merupakan pernyataan, serta terdiri dari S+K+P ("Adik" = Subjek + "itu" = Kopula + "makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah" = Predikat)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan memperhatikan contoh tersebut, kita dapat mengenali bahwa kalimat dan pernyataan hanya berbeda tipis saja, yaitu dibedakan dengan kata "itu". Dalam bahasa Inggris, kata "itu" yang dimaksud sebenarnya adalah kata "is", yang artinya "adalah" itu sendiri. Secara lebih jauh, ciri yang membuat pernyataan itu dibedakan dari kalimat adalah sisi pengujiannya. Kalimat (1) di atas, tidaklah perlu diuji isinya benar ataupun tidak karena sudah memenuhi syarat kalimat lengkap. Sedangkan dalam pernyataan (2), hal ini perlu dibuktikan kembali apakah isinya benar atau salah, khususnya untuk fakta yang ada pada Predikat dari pernyataannya tersebut. (lihat kembali pembahasan saya untuk masalah formal dan material dalam logika dalam artikel &lt;a href="http://www.belajar-filsafat.com/2009/01/logika-2.html"&gt;ini&lt;/a&gt;.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi, kalau kita boleh mengambil kesimpulan secara singkat, kalimat yang benar hanya membutuhkan sisi pengujian atas susunannya, sedangkan pernyataan yang benar hanya akan benar bila teruji sisi susunannya (&lt;i&gt;formal&lt;/i&gt;) maupun sisi isi yang terkandung di dalamnya (&lt;i&gt;material&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, dengan kesimpulan yang terakhir tadi ini, saya bisa menutup artikel mengenai kata dan istilah, serta kalimat dan pernyataan, dengan baik dong. Kan dah ada kesimpulannya tuh ...! :-p&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai jumpa dalam posting mengenai logika yang selanjutnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-5212125952018064854?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/5212125952018064854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=5212125952018064854' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/5212125952018064854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/5212125952018064854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2010/04/logika-7-kata-dan-istilah-kalimat-dan.html' title='Logika (7), Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-6153202516294745549</id><published>2010-03-09T23:50:00.002+07:00</published><updated>2010-03-30T21:33:28.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (6), Model Dialektika Hegelian</title><content type='html'>Mohon maaf kepada para pembaca blog Belajar Filsafat ini. Saya belum sempat membuat posting yang baru karena kesibukan di kampus. Namun, kali ini saya memaksakan diri untuk menulis kembali buat blog ini. Selamat membaca! ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan kita kali ini adalah satu model dialektika yang diperkenalkan oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hegel"&gt;Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831)&lt;/a&gt;. Beliau ini adalah salah satu filsuf Jerman yang paling masyhur dan menjadi banyak rujukan dari pemikiran Idealisme pada masa sekarang ini. Idealisme yang dimaksud adalah salah satu jenis pemikiran yang mengutamakan ide atau gagasan sebagai sumber kebenaran. Biasanya, Idealisme dilawankan dengan Empirisisme atau jenis pemikiran yang mengutamakan pengalaman atas kenyataan sebagai sumber kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali pada model dialektika Hegel, model dialektikanya merupakan salah satu yang tersulit dipahami dalam sejarah filsafat modern. Ini dikarenakan Hegel berbicara dalam tingkatan yang sangat teoretis dan tidak membicarakan hal-hal yang bersifat praktis. Apalagi, filsafat Hegel memiliki dasar pemikiran pada sesuatu yang sangat abstrak, yaitu filsafat "roh". Walaupun demikian, kita tidak perlu panjang lebar membicarakan dasar filsafatnya ini. Sebab, ini belum waktunya kita masuk dalam pembahasan filsafat yang rumit tersebut. (Iya, ni kan belajar filsafatnya harus yang gampang-gampang dulu. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dialektika Hegel ini adalah yang lazim dikenal sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blocquote&gt;tesis - antitesis - sintesis&lt;/blocquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis secara sederhana dipahami sebagai "suatu pernyataan atau pendapat yang diungkapkan untuk sesuatu keadaan tertentu".&lt;br /&gt;Misalnya: "Tanah ini basah karena hujan".&lt;br /&gt;Antitesis adalah "pernyataan lain yang menyanggah pernyataan atau pendapat tersebut".&lt;br /&gt;Misalnya: "Hari ini tidak hujan".&lt;br /&gt;Sintesis adalah "rangkuman yang menggabungkan dua pernyataan berlawanan tersebut sehingga muncul rumusan pernyataan atau pendapat yang baru".&lt;br /&gt;Misalnya: "Oleh karena hari ini tidak hujan, tanah ini tidak basah karena hujan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dialektika di atas ini mungkin penyederhanaan atas apa yang dibicarakan Hegel. Tapi, kira-kira seperti inilah pola dialektika secara umum. (Mudah-mudahan apa yang saya bicarakan dengan contoh di atas tidak terlalu jauh dari apa yang memang dimaksudkan sebagai model dialektika Hegel. Kalau salah, tolong dibenerin ya? :-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dialektika ini sebenarnya sudah banyak kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pikiran yang satu disanggah dengan pikiran yang laennya. Namun, rumusan ilmiah atas itu memang baru dibuat secara "hebat" dan mulai terkenal dalam pemikiran filsafat semenjak diperkenalkan Hegel untuk menopang pandangan filsafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, membaca pikiran Hegel itu tidak mudah. Sebab, membaca Hegel, sama dengan membaca pikiran tiga orang filsuf sebelumnya, yaitu: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kant"&gt;Immanuel Kant (1724 - 1804)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fichte"&gt;Johan Gottlieb Fichte (1762 - 1814)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Wilhelm_Joseph_Schelling"&gt;Friedrich Wilhelm Joseph Schelling (1775 - 1854)&lt;/a&gt;. Pada dua orang terakhir ini, Hegel mengambil saripati pikiran yang dikembangkan sebagai model dialektika. Sebagai gambaran sederhana, saya akan ringkaskan sedikit pandangan bagaimana Hegel itu sendiri "berdialektika" dengan Ficthe dan Schelling di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Fichte yang terutama terletak pada pemahaman atas diri yang disebut "Aku" atau "Ego". Menurutnya, Aku ini merupakan unsur terpenting dalam diri manusia. Itu karena Aku adalah pribadi yang dapat melakukan permenungan. Ini seibarat pendapat &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Descartes"&gt;Rene Descartes (1596 - 1650)&lt;/a&gt; yang mengatakan bahwa: Aku berpikir, maka Aku ada (bahasa keren latinnya, yaitu: Cogito ergo sum). Namun, dalam pikiran Fichte, Aku ini tidaklah sendiri. Aku ini menjadi sadar karena ada sesuatu yang di luar Aku. Dalam konteks ini, sesuatu yang di luar Aku dapat berupa Aku yang lain ataupun alam. Sehingga, dengan pergumulan Aku yang lain ini-lah, Aku menjadi sadar kalau dirinya terbatas. Begitupun sebaliknya dengan Aku yang lainnya itu. Bahasa sederhananya, ketika kita menyadari kehadiran orang lain, kita menjadi sadar kalau kita tidak sendiri. Dengan menyadari ketidaksendirian itu, kita pun menjadi sadar kalau kita dibatasi ataupun membatasi orang lain. Kita maupun orang lain menjadi tidak bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model dialektika, pola pikir Fichte terumus demikian: Aku ini sadar (tesis) - Ada Aku lain (antitesis) - Aku dan Aku lain saling membatasi (sintesis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pikiran Schelling, hal ini terungkap dalam kaitannya dengan permasalahan identitas. Schelling menolak Fichte yang mengutamakan Aku atas alam. Menurutnya, identitas Aku itu tidaklah bersifat subjektif (berciri "roh") ataupun objektif (berciri "materi"). Aku mengatasi keduanya. Oleh karena itu, Aku berciri mutlak atau absolut. Maksudnya, secara sederhana, andaikan saja Aku ini bukan pribadi. Maka, Aku akan mendapatkan ciri yang sangat abstrak. Sebab, ketika tadi dipahami bahwa alam adalah Aku yang lain, alam yang bukan pribadi mendapatkan status yang sama dengan manusia yang pribadi. Jadi, tidak ada bedanya antara manusia dan alam karena keduanya dapat dipandang sebagai Aku. (Hik... hik... bingung. Ada penjelasan lain yang lebih sederhana ga? Tolong ...!!! :-( )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model dialektika, pola pikir Schelling terumus demikian: Aku yang lain atau alam (tesis) - Aku individu atau manusia (antitesis) - Aku yang bukan materi dan roh (sintesis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha mengatasi perdebatan antara Fichte dan Schelling, Hegel lalu merumuskan sesuatu yang "sederhana" dibandingkan dua pendapat filsuf itu. Pada satu sisi, ia mengkritik pandangan Fichte yang tidak menyelesaikan masalah pertentangan antara Aku dengan Aku yang lain. Sementara pada sisi yang lain, walaupun kagum dengan filsafatnya Schelling, Hegel mengatakan bahwa pendapat Schelling memiliki kelemahan karena tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan Aku absolut itu sendiri. Hegel lalu merumuskan pemahamannya atas masalah ini menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blocquote&gt;Idea (tesis) - Alam (antitesis) - Roh (sintesis)&lt;/blocquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah apa yang dimaksudkan sebagai Aku absolut menurut pandangan Hegel. Bingung kan? Silahkan baca selengkapnya dalam tulisan Hegel maupun tulisan tentang Hegel. Hehe... (Bandingkan pula dengan apa yang dijelaskan di awal tentang model dialektika oleh saya. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karena saya harus memegang janji saya untuk tidak panjang lebar menjelaskan pandangan filsafat Hegel mengenai roh. Tetapi, apa yang saya sampaikan sudah menjelaskan bahwa model logika yang dikembangkan Hegel memang paling rumit dalam sejarah filsafat. Sampai jumpa dalam postingan berikutnya. ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;F. Budi Hardiman, 2007, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche&lt;/span&gt;, cet. II, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-6153202516294745549?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/6153202516294745549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=6153202516294745549' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/6153202516294745549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/6153202516294745549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2010/03/logika-6.html' title='Logika (6), Model Dialektika Hegelian'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-8348298595659347681</id><published>2009-05-09T11:30:00.001+07:00</published><updated>2009-05-09T11:49:43.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (5), Sokrates dan Percakapan Dialektik</title><content type='html'>Kali ini kita akan membahas model Dialektika yang diungkapkan masih oleh salah satu filsuf terkenal dari masa Yunani Kuno, yaitu Sokrates dari Athena. Sokrates terkenal memang bukan karena metode Dialektika. Ia menjadi sangat terkenal karena ia memilih minum racun untuk mempertahankan prinsipnya dalam pengadilan kota Athena. Namun, sebenarnya, peristiwa ini terjadi justru sebagai akibat langsung dari metode Dialektika yang ia pakai. Kenapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Dialektika Sokrates agak sedikit berbeda dengan pola yang dipakai oleh Zeno. Ini karena Sokrates memang memaksudkan Dialektika justru pada asal katanya, yaitu bercakap-cakap atau berdialog. Ya, Sokrates memang adalah orang yang senang bercakap dengan orang lain yang bertemu dengannya di sepanjang jalan kota Athena. Ia selalu mengajak mereka diskusi untuk sesuatu yang ia anggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tentu saja percakapan model diskusi yang dilakukan oleh Sokrates memang tidak selamanya disambut hangat. Apalagi bila dipandang dari kacamata kaum Sofis. Mereka ini adalah rival Sokrates. Ini karena kaum Sofis adalah sekelompok orang yang justru mengambil keuntungan dari masyarakat melalui kecakapannya berorasi atau berpidato. Nah, seringkali kaum Sofis ini dibuat jengkel oleh Sokrates karena mereka merasa dipermalukan di depan banyak orang dengan metode Dialektika. Lalu, seperti apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Sokrates dengan Dialektika ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah ilustrasi yang dibuat untuk memberikan gambaran seperti apa kiranya metode Dialektika yang dipergunakan oleh Sokrates.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Suatu hari, Sokrates bertemu dengan Meno, sahabat lamanya, di kios ikan pasar Athena. Begitu senangnya, sehingga mereka lama berpelukan. Sokrates kemudian mengajak Meno untuk rehat di sebuah emperan rumah dekat pasar sambil sekaligus berteduh.&lt;br /&gt;"Apa yang sedang kau lakukan saat ini, wahai Meno saudaraku?"&lt;br /&gt;"Aku sedang menjajagi untuk membuka kios usaha di Megara, Sokrates. Makanya aku berkunjung ke Athena untuk melihat bagaimana mereka mengelola kiosnya dan barang-barang apa saja yang dapat ku ambil dari sini."&lt;br /&gt;"Oh begitu. Bukankah engkau sudah punya ladang gandum yang begitu luas dari ayahmu? Apa itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu?"&lt;br /&gt;"Tidak Sokrates. Itu belum cukup bagiku. Aku ingin lebih dari ayahku. Ingin seperti Kranos, saudagar terkaya di Megara. Dia hidup sangat senang dengan semua kemewahan yang ia punya."&lt;br /&gt;"Hidup sangat senang? Bisa kau berikan keterangan yang lebih jelas lagi wahai Meno?"&lt;br /&gt;"Kau memang tidak tahu apa artinya hidup mewah Sokrates. Kranos itu punya segala-galanya. Budak yang ia punya lebih dari 40 orang. Perempuan pun suka padanya. Tidak kurang dari belasan perempuan hilir mudik datang ke rumah Kranos tiap harinya. Merayu untuk menjadi istrinya. Rumah itu amat megah. Berdiri kokoh dengan tiang granit dan lantai batu pualam. Tidak cukup sampai di situ, ia, Kranos, juga memiliki 4 kereta dan 10 ekor kuda. Itu hebat Sokrates. Itu baru namanya hidup."&lt;br /&gt;"Terus, apa hubungannya antara hidup sangat senang dan hebat? Apakah kalau kita hidup dengan hebat maka akan hidup dengan sangat senang?"&lt;br /&gt;"Itu betul Sokrates. Kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Makanya aku datang jauh-jauh ke Athena agar bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan yang lebih daripada Kranos. Aku akan menjadi lebih hebat dari Kranos tentunya."&lt;br /&gt;Di tengah percakapan ini, seorang anak kecil bersama ibunya lewat di depan mereka. Anak itu sangat senang sekali karena ibunya membelikan ia permen gula. Ia jalan berjingkat-jingkat kecil dengan satu tangan menggenggam permen gula dan tangan lainnya memegang tangan si ibu.&lt;br /&gt;"Kau lihat anak kecil itu wahai Meno?"&lt;br /&gt;"Ya Sokrates. Memangnya ada apa?"&lt;br /&gt;"Tadi anak kecil itu begitu senangnya. Tidakkah itu juga hebat Meno?"&lt;br /&gt;"Hebat apanya Sokrates? Menurutku, itu wajar saja. Setiap anak yang diberi permen gula tentu akan merasa sangat senang."&lt;br /&gt;"Jadi, kau menganggap kalau hebat itu tidak identik dengan rasa senang?"&lt;br /&gt;"Maksudmu apa Sokrates?"&lt;br /&gt;"Tadi kau mengatakan kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Bukankah itu sama dengan mengatakan bahwa rasa senang itu identik dengan hebat? Artinya, kalau kita hidup dengan hebat, itu akan membuat kita hidup senang. Bukankah begitu wahai Meno sahabatku?"&lt;br /&gt;Meno bingung dengan pertanyaan dan kata-kata Sokrates. Ia mulai kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;"Iya, mungkin, Sokrates."&lt;br /&gt;"Kenapa mungkin? Kalau rasa senang itu identik dengan hebat, maka anak kecil yang tadi mendapat permen gula itu pun bisa kita bilang hebat Meno. Hanya dengan sebuah permen gula yang kecil, ia bisa merasa sangat senang."&lt;br /&gt;Meno akhirnya tak mampu berkata-kata. Ia merasa terpojok dengan ucapan Sokrates. Hanya dengan contoh kecil saja, Sokrates telah membuat lamunannya yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;"Aku tidak melarangmu menjadi hebat atau melebihi kehebatannya Kranos, wahai Meno. Aku ingin kamu menentukan tujuan hidupmu menjadi hebat bukan semata-mata karena melihat orang lain."&lt;br /&gt;Setelah itu, Sokrates menepuk pundak Meno, lalu mengajaknya pergi bertandang ke rumahnya untuk sekadar bersantap ala kadarnya. Meno mencari temannya terlebih dahulu&lt;br /&gt;dan mereka bertiga menuju rumah Sokrates.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam dialog Sokrates dengan Meno di atas, kita dapat melihat bahwa Sokrates menggunakan Dialektika sebagai satu cara untuk menyadarkan orang lain itu akan pengertian yang sesungguhnya tentang makna suatu kata. Dengan contoh-contoh sederhana, Sokrates mampu mengurai retorika menjadi suatu pembicaraan tanpa isi. Melalui cara inilah ia dikenal sebagai pembicara ulung dan menjadi sangat disegani di seantero Athena. Tetapi, ia pun sekaligus menjadi orang yang paling menjengkelkan dan paling dimusuhi oleh orang-orang yang tidak menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara seperti ini yang diberi nama oleh Sokrates sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maieutike tekhne&lt;/span&gt; (seni kebidanan). Ini karena Sokrates selalu mengganggap dirinya seibarat "bidan" yang membantu melahirkan pengertian yang benar dalam pikiran orang lain. Dalam hal ini, ia sangat terinspirasi oleh ibunda yang memang adalah seorang bidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah kini anda sudah memahami metode Dialektika Sokrates? ;-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-8348298595659347681?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/8348298595659347681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=8348298595659347681' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8348298595659347681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8348298595659347681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2009/05/logika-5.html' title='Logika (5), Sokrates dan Percakapan Dialektik'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-7105600677228957409</id><published>2009-04-19T00:03:00.001+07:00</published><updated>2009-04-19T00:09:33.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (4), Dialetika Zeno dari Elea</title><content type='html'>Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, kini saya akan membahas satu jenis pola pikir yang banyak digunakan oleh para filsuf, yaitu Dialektika. Walaupun tidak terlalu lengkap, tapi saya akan membahas pola Dialektika yang dibangun oleh tiga filsuf yang sangat menarik. Selamat membaca ...! ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat dari sejarahnya, Dialektika ini sebenarnya berasal dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dialegestai&lt;/span&gt; (Yunani) yang berarti "percakapan". Para filsuf sebelum &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Socrates"&gt;Sokrates dari Athena (± 469 – 399 SM)&lt;/a&gt;, seperti &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zeno_of_Elea"&gt;Zeno dari Elea (± 490 – 430 SM)&lt;/a&gt;, sudah menggunakan istilah ini sebagai suatu nama untuk metode berpikir. Ini dipakai, terutama, ketika Zeno berusaha untuk mempertahankan pandangan sang guru, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Parmenides"&gt;Parmenides dari Elea (± 515 – 440 SM)&lt;/a&gt; yang menyatakan bahwa "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;alam semesta itu satu adanya dan tidak ada perubahan di dalamnya&lt;/span&gt;".  Pandangan yang demikian ini dikenal sebagai suatu jenis pandangan yang monistik tentang semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pikiran Zeno, ada beberapa uraian menarik yang diberikan olehnya ketika ia sedang berdialektika. Misalnya, saat ia mengajukan masalah pelik yang membingungkan banyak orang. Berikut adalah salah satu contoh masalah yang dikemukakannya.&lt;blockquote&gt; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Achilles"&gt;Achilles&lt;/a&gt; tidak dapat memenangi lomba lari melawan kura-kura&lt;/blockquote&gt;Membaca masalah di atas, mungkin kita akan sedikit tersipu, heran, atau malah bingung. Kok bisa ya filsuf mengemukakan masalah yang ganjil serupa ini? Apa memang kurang kerjaan atau gimana ya? ( Nah lho, komentar kok gak sopan ...! ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saat Achilles dinyatakan tidak bisa menang melawan kura-kura dalam lomba lari, mungkin ini seperti bualan. Tetapi, kalau boleh saya bilang, ini bualan yang paling argumentatif. (^_^) Sebagai orang Yunani masa itu, Zeno tahu kalau Achilles adalah seorang pelari yang handal. Bahkan, dalam mitologi Yunani, Achilles adalah seorang pahlawan pada &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Trojan_War"&gt;Perang Troya&lt;/a&gt;. Jadi, kalau Achilles harus bertarung lari dengan seekor kura-kura yang sangat lambat, maka "sungguh mustahil sekali" kalau kura-kura bisa menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di balik masalah yang Zeno kemukakan, sebenarnya ada suatu persoalan pelik yang hanya bisa dipahami menggunakan pendekatan fisika maupun matematika untuk mengatakan pandangan Zeno itu benar. Walalupun demikian, ada syarat tertentu yang diandaikan oleh pernyataan ini. Syarat ini tiada lain adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kura-kura harus memulai lari lebih dahulu daripada Achilles&lt;/span&gt;. Kenapa harus seperti itu? (Aneh, walaupun mulai duluan, kan gak bakalan menang juga. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat di atas dibutuhkan dalam memahami pernyataan Zeno dari sisi fisika maupun matematika. Dari segi fisika, pernyataan Zeno mendapatkan pembenaran kalau hal ini dikaitkan dengan analisis mengenai waktu. Misalnya Achilles (A) dan kura-kura (K) memulai lomba pada waktu 00.&lt;sup&gt;00&lt;/sup&gt;. Saat lomba dilaksanakan, K memulainya terlebih dahulu pada 00.&lt;sup&gt;01&lt;/sup&gt; dan A membiarkannya sampai K itu melaju cukup jauh. Dengan kecepatan lari yang dimilikinya, A berlari mengejar K hingga melampauinya dan menunggu K menghampirinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik cerita lomba di atas, tentunya A lebih unggul secara kemampuan dan dapat dipastikan siapa pemenangnya. Namun, dalam kaitannya dengan waktu, justru K yang lebih dahulu memimpin. Ini karena K memulai lomba pada 00.&lt;sup&gt;01&lt;/sup&gt;. Saat kita memahami ini semua dalam kerangka waktu, maka A-lah yang akan mengalami kekalahan. Ini karena waktu A memulai lomba misalnya pada 30.&lt;sup&gt;00&lt;/sup&gt;, setelah menunggu K berjalan cukup jauh. Dalam teori mengenai waktu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tidak ada sesuatu apapun yang dapat melampaui atau mendahului waktu&lt;/span&gt;. Tidak juga kecepatan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, memahami pernyataan Zeno dalam kaitannya dengan kerangka waktu justru akan dapat membuat kita sadar bahwa pendapat Zeno ini ternyata ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk memahami pernyataan Zeno adalah memahaminya dari sisi matematika (walaupun ada fisikanya juga sih). Berikut ini adalah uraiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat A dan K berlomba, dengan K yang memulainya terlebih dahulu, K ini sebenarnya sedang mengambil suatu posisi terhadap A. Maksudnya membuat suatu posisi di sini adalah K membuat jarak dengan A dan membuat suatu titik acuan relatif terhadap A. Ketika K bergerak, maka posisi itu pun sudah pasti akan berubah. Nah, saat A bergerak mendekati posisi K atau malah melampauinya, sudah pasti jarak antara A dengan K akan berkurang, sama, atau malah menjauh. Pada saat ini terjadi, posisi A bisa berada di belakang, sama, atau malah di depan K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menggunakan pola pikir yang biasa dipakai sebagai dasar analisis, artinya hanya mempertimbangkan jarak sebagai ukuran pokok dalam memahami persoalan di atas, maka kita akan keliru memahami pernyataan Zeno. Sebab, menurut saya, Zeno tidak sedang mempertimbangkan jarak sebagai ukuran pokok. Yang ia pikirkan, mungkin, adalah posisi K yang tidak pernah bisa dijangkau oleh A. Artinya, saat K mencapai posisi tertentu, ini tidak akan dapat dijangkau oleh A karena posisi K selalu berubah secara relatif terhadap A. Tentu saja posisi yang relatif ini masih berlaku saat jarak antara A dan K adalah 0 alias A = K atau jarak antara A dan K adalah A &gt; K. Dengan ini, kita tidak dapat mengatakan A itu menang atas K berdasarkan posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung? (Wah, benar-benar deh, belajar kali ini cukup melelahkan. ;-1 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bingung, ada cara alternatif lainnya untuk memahami ini. Zeno itu benar kalau Zeno memang berpikir "curang". Ya, seandainya Zeno berpikir demikian, ini juga bukan sesuatu yang mustahil. Pikiran curang ini adalah dengan membayangkan kalau Achilles ternyata bukan hanya melawan seekor kura-kura, tapi melawan 1.000 ekor kura-kura yang bekerja sama dan mirip satu sama lain. He he ... (Dasar, kirain serius. Gak tahunya guyon ... !!! ;-p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian uraian mengenai Dialektika dari Zeno. Posting berikutnya, kita akan membahas Dialektika model lain yang tak kalah seru.  ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-7105600677228957409?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/7105600677228957409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=7105600677228957409' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7105600677228957409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7105600677228957409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2009/04/logika-4.html' title='Logika (4), Dialetika Zeno dari Elea'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-2729763825486939409</id><published>2009-03-20T17:53:00.002+07:00</published><updated>2009-04-19T00:02:43.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (3), Deduksi, Induksi, dan Abduksi</title><content type='html'>Di dalam tulisan &lt;a href="http://belajar-filsafat.blogspot.com/2009/01/logika-2.html"&gt;Logika (2)&lt;/a&gt;, kita sudah sedikit banyak mengenal istilah logika maupun materi-materinya. Ada yang disebut Logika Formal dan Logika Material, juga ada yang disebut Deduktif dan Induktif. Tetapi, apa yang bisa dimanfaatkan dari materi itu kalau kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari?&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalau dilihat secara sepintas, kita mungkin tidak akan banyak dapat menggunakan analisis seperti yang telah dilakukan pada posting sebelumnya. Tapi, sebenarnya kita justru seringkali menggunakan pola pikir tersebut. Cuma kadangkala, kita tidak menerapkannya dengan baik. Ada beberapa persoalan tentang hal ini yang menjadi sebab kenapa kita tidak dapat menggunakan logika secara praktis dan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pertama, kita selalu menganggap apa yang kita pikir itu benar.&lt;br /&gt;      Kedua, kita selalu menganggap apa yang dipikir orang lain salah bila bertolak belakang dengan pola pikir kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini awal dari banyak kesalahan berpikir logika. Bahkan filsuf sekaliber &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bertrand_Russell"&gt;Bertrand Arthur William Russell (1872-1970)&lt;/a&gt; pun pernah mengalami kesalahan ini. Oleh karena itu, hindarilah dua dasar pikiran yang telah dikutipkan di atas. Sebab, apapun yang kita pikirkan, ucapkan, maupun yang dinyatakan secara kukuh tetap memiliki kesalahan logis yang bersifat internal (terkandung di dalamnya) atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;internal logical fallacy&lt;/span&gt;. (Apa tulisan ini juga begitu? Hehe... Ya, tinggal Anda nilai sendiri aja. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, terlepas dari kasus kesalahan logis yang internal, dua dasar pikiran di atas itu sendiri sebenarnya dapat kita sebut sebagai satu jenis pola pikir baru yang berhasil dikenali dalam kajian logika&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;. Adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Peirce"&gt;Charles Sanders Peirce (1839-1914)&lt;/a&gt; yang pertama kali mengenalkan cara menganalisis jenis pola pikir tersebut. Pola pikir ini bersifat "menduga" (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;speculation&lt;/span&gt;) dan diberi nama dengan Abduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kira-kira pola pikir ini dianalisis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, apa yang disebut Abduktif tidak jauh berbeda dengan dua pola pikir yang telah disebutkan. Kalau kita bandingkan secara langsung antara Deduktif, Induktif, dan Abduktif, maka kita cuma melihat perbedaan yang tipis saja dan hanya bertukar posisi untuk pernyataan-pernyataannya. Berikut adalah contoh perbandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deduksi:&lt;br /&gt;(1.1)  Semua buncis yang berasal dari kantong itu (adalah) putih&lt;br /&gt;(1.2)  Buncis ini (adalah) berasal dari kantong itu&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;(1.3)  Buncis ini (adalah) putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Induksi:&lt;br /&gt;(2.1)  Buncis ini (adalah) berasal dari kantong itu&lt;br /&gt;(2.2)  Buncis ini (adalah) putih&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;(2.3)  Semua buncis yang berasal dari kantong itu (adalah) putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abduksi&lt;br /&gt;(3.1)  Semua buncis yang berasal dari kantong itu (adalah) putih&lt;br /&gt;(3.2)  Buncis ini (adalah) putih&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;(3.3)  Buncis ini (adalah) berasal dari kantong itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan:&lt;br /&gt;*) kata (adalah) ini digunakan untuk menerjemahkan kata 'is'.&lt;br /&gt;**) Selengkapnya, lihat dalam Umberto Eco, 1979, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Theory of Semiotics&lt;/span&gt;, Indiana University Press, Bloomington, hal. 131-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda perhatikan dengan baik, ternyata pola Deduksi, Induksi, maupun Abduksi menggunakan tiga pernyataan yang sama. Ini menunjukkan bahwa antara tiga pola pikir ini terdapat hubungan yang saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, pembahasan kita kali ini. Di posting selanjutnya, saya akan membahas Dialektika sebagai suatu jenis pola pikir lainnya dari logika. Bye ... ;-)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-2729763825486939409?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/2729763825486939409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=2729763825486939409' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/2729763825486939409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/2729763825486939409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2009/03/logika-3.html' title='Logika (3), Deduksi, Induksi, dan Abduksi'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-3185672702795452007</id><published>2009-02-21T07:41:00.002+07:00</published><updated>2009-04-19T00:00:42.449+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (2), Formal, Material, dan Deduksi</title><content type='html'>Wuih, capeknya. Setelah surfing sana sini, akhirnya saya bisa menemukan apa yang saya cari untuk memperbaiki blog ini. Mudah-mudahan yang mampir di sini bisa jadi lebih betah. Hehe... Oya, sebelum lanjut pada pembahasan Logika (2), saya akan jelaskan pengubahan blog ini terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, blog ini menggabungkan 7 blog yang saya kelola menjadi satu kesatuan. Dengan menu yang bisa diakses di bagian kiri atas (foto saya yang agak keren tapi buhun ;-p ), Anda bukan cuma akan disuguhi suatu format belajar filsafat, tetapi juga bisa mengakses tulisan-tulisan lainnya dari saya, yaitu puisi, pembahasan komputer, tips seputar blog, artikel dan makalah, skripsi, ataupun pengalaman pribadi. Walaupun belum lengkap seutuhnya, tapi mudah-mudahan bisa saya lengkapi tahap demi tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, udah dulu ya? Ntar lagi deh jelasinnya. Sekarang, mari lanjutkan belajar filsafat lagi. Hihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika, seperti telah kita bahas dalam uraian sebelumnya, memiliki materi yang sederhana tapi juga mendasar. Walaupun telaah lanjutannya dapat menghasilkan suatu pengkajian yang super sulit bin sukar, tapi kita sebenarnya tidak membutuhkan model kajian yang serupa itu. Kalau dapat dibuat mudah, kenapa tidak? Ini yang akan kita pelajari dalam pembahasan kali ini. Supaya hal ini terlaksana, kita akan bahas kasus yang dialami oleh kita dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kita punya kasus seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aslam adalah seorang petani. Ia bekerja membanting tulang setiap hari. Selepas Subuh, ia langsung berangkat ke sawah untuk memulai pekerjaan sebagai seorang penggarap. Dari mulai mencangkul lahan, membenihkan padi, menanam bibit, memupuknya, menyiangi rumput yang ikut tumbuh, membenarkan galangan sawah yang bolong-bolong oleh ketam atau rusak diterjang anak-anak, mengatur air agar selalu menggenang, mengusir burung yang hinggap saat padi hendak matang, hingga memanen padi, menimbang, lalu menjualnya ke pasar. Semua pekerjaan ia lakukan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ia mengeluh karena merasa capai dengan semua pekerjaannya itu. Ia mengeluh pada istrinya. Kata Aslam, "Bu, coba aku sekolahnya bisa sampai tamat SD. Atau, kayak Samir itu lho! Sarjana, punya titel, kerja kantoran, gak kepanasan, juga dapat gaji tiap bulan. Gak kayak aku ini. Sehari-hari ya cuma dapat pas-pasan. Kadang cukup, kadang nggak." Istrinya menjawab: "Ya sudah. Bapak terima nasib aja. Yang penting, anak-anak kita ga kayak bapaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, coba analisis kasus di atas dengan menggunakan logika. Jawaban seperti apa yang bisa dihasilkan oleh Logika atas kasus di atas? Mau tahu jawabannya? (Iya dong! Gimana sih, udah tahu malah nanya. Sabar-bar, beri saya waktu untuk berpikir. ^_^? )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Logika Formal&lt;/span&gt; untuk kasus di atas adalah bahwa dalam kasus ini Aslam menggunakan pola pikir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Induktif&lt;/span&gt;. Kenapa demikian? Ini karena Aslam menyimpulkan sesuatunya berdasarkan pada banyak pekerjaan yang ia lakukan. Akan tetapi, kalau menggunakan format &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Logika Material&lt;/span&gt;, kasus di atas menyimpan masalah tentang fakta yang tak diungkapkan. Misalnya, apakah ketika panen padi Aslam tidak dibantu oleh satu orang pun? Berapakah luas sawah yang digarap oleh Aslam sehingga ia dapat melaksanakan semua pekerjaannya itu sendirian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan jawaban ini kita sudah masuk dalam pembahasan istilah baru dari kajian Logika. Mungkin Anda sudah menangkap maksudnya. Tetapi, kalau belum jelas, saya akan paparkan satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika Formal dan Logika Material adalah salah satu model dari pembagian Logika. Formal di sini dimaksud sebagai suatu pengertian yang mengacu pada bentuk baku yang telah ditetapkan untuk suatu hal berdasarkan kaidah-kaidah logika. Sedangkan Material, ini dimengerti sebagai isi dari suatu hal yang dapat dibuktikan atau dapat diverifikasi (diuji) kesahihannya berdasarkan pada kenyataannya di dunia. Bingung? (Bagus kalau bingung. Itu baru namanya belajar logika. Bukan belajar bahasa lho! ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di bawah ini akan lebih menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Contoh 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, kita punya dua pernyataan:&lt;br /&gt;(1) Semua manusia itu akan mati&lt;br /&gt;(2) Aslam itu manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya akan menjadi:&lt;br /&gt;(3) Aslam itu akan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas ini merupakan suatu pola pikir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Deduktif&lt;/span&gt; yang lolos dari ujian Logika Formal maupun Material. Kenapa? Ini karena tiga pernyataan di atas sudah memenuhi syarat baku dalam kaidah Formal, maupun benar secara isi seperti yang dikehendaki dalam syarat Material. Berikut kaidah Formal dalam logika yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1.1) A is B&lt;br /&gt;(2.1) C is A&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;(3.1) C is B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Pernyataan 1.1 disebut dengan Premis Mayor (Pernyataan Umum).&lt;br /&gt;Pernyataan 2.1 disebut dengan Premis Minor (Pernyataan Khusus).&lt;br /&gt;Pernyataan 3.1 disebut dengan Konklusi (Kesimpulan).&lt;br /&gt;Kata "is" ini disebut dengan Kopula (atau mirip dengan lambang "=" dalam Matematika).&lt;br /&gt;Kata "itu", "ini", atau "adalah" biasa digunakan sebagai Kopula untuk pernyataan logis dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana dengan syarat Materialnya? Bagaimana penjelasannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berikan satu contoh lagi di bawah ini agar dapat Anda bandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Contoh 2)&lt;br /&gt;(1.2) Semua manusia itu berumur panjang&lt;br /&gt;(2.2) Aslam itu manusia&lt;br /&gt;--------------------------------------------&lt;br /&gt;(3.2) Aslam itu berumur panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh terakhir, walaupun sudah memenuhi syarat sesuai dengan kaidah Formal di atas, kita bisa mengetahui bahwa kesimpulannya keliru. Contoh 2 ini menyimpulkan bahwa Aslam itu akan memiliki umur yang panjang. Padahal, mungkin saja kalau Aslam ini berumur pendek. Jadi, untuk contoh 2, kita dapat mengatakan bahwa contoh ini valid/sahih secara formal tetapi keliru secara material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, mungkin Anda masih penasaran dengan dua istilah ini, yaitu: Induktif dan Deduktif. Untuk istilah Deduktif, saya sudah berikan contohnya dalam contoh 1. Begitulah yang disebut pola pikir Deduktif. Sedangkan untuk Induktif, inilah contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Contoh 3)&lt;br /&gt;(1.3) Aslam itu akan mati&lt;br /&gt;(2.3) Aslam itu manusia&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;(3.3) Semua manusia itu akan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Anda bisa bandingkan contoh 1 dan contoh 3 ini. Semua pernyataannya sama persis. Hanya saja, dalam contoh 1, pernyataan 3.3 ada dan berlaku sebagai Premis Mayor. Sedangkan pada contoh di sini, pernyataan tersebut malah menjadi Konklusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mudah-mudahan Anda dapat mempelajarinya dengan baik dan memahami serba sedikit dari pembahasan Logika beserta model penerapannya dalam menganalisis kehidupan sehari-hari. Oya, sebagai tambahan informasi, kaidah Formal yang dimaksud di atas dalam kajian Logika dinamakan dengan Silogisme. Penemunya adalah filsuf masyhur yang pernah menjadi guru Alexander Agung (356-323 SM). Beliau tidak lain daripada Aristoteles (384-322 SM) atau sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Father of Logics&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian belajar logika kali ini. Sampai jumpa di posting berikutnya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-3185672702795452007?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/3185672702795452007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=3185672702795452007' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/3185672702795452007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/3185672702795452007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2009/01/logika-2.html' title='Logika (2), Formal, Material, dan Deduksi'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-765897727206524916</id><published>2009-01-11T15:19:00.003+07:00</published><updated>2009-07-31T22:24:44.503+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cabang Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika'/><title type='text'>Logika (1), Pengantar dan Materi Pembahasan</title><content type='html'>Selamat bertemu kembali dengan saya di tahun 2009 ini. Mohon maaf kalau sempat absen karena saya sakit dan juga sedang sibuk-sibuknya dengan urusan di kampus. ;-) Kali ini saya akan melanjutkan kembali blog Belajar Filsafat ini dengan posting baru. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu pilar pemahaman kajian filsafat, Logika menjadi cabang yang sebaiknya Anda pelajari pertama kali. Walaupun begitu, orang yang mempelajari Logika seringkali mengalami hambatan. Ini terutama dikarenakan mereka sudah punya pikiran yang kurang baik mengenai Logika. Ada yang mengatakan sukar, hanya main-main saja, ataupun tidak diperlukan karena merasa "saya sudah pandai". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau dikatakan sulit, Logika itu kan dipikirkan dan dibuat oleh manusia. Kita yang sesama manusia ini harusnya bisa juga dong belajar Logika. Main-main? Iya juga sih. Sebab, tanpa permainan yang baik dan juga Logika yang cukup, seorang &lt;a href="en.wikipedia.org/wiki/Lewis_Carroll"&gt;Lewis Carroll&lt;/a&gt; (1832-1898) tidak akan dapat membuat cerita &lt;a href="http://www.gutenberg.org/etext/11"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alice in Wonderland&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Alice di Negeri yang Indah). Begitupun dengan ungkapan "tidak perlu", ini harus dihilangkan baik-baik dari pikiran Anda. Sebab, kalau Anda memang benar-benar pandai, Anda tidak akan kuliah sampai S3 dong. (Hehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan apa-apa, mempelajari Logika sebenarnya akan memberikan manfaat yang besar kalau kita bisa memahaminya dengan baik. Salah satunya akan membuat kita tidak salah paham dalam menilai pendapat seseorang hingga harus terjadi pertengkaran. Perang sekalipun akan dapat kita hindari kalau kita mampu berpikir logis. Kecuali kita bersikap egois dan hanya berpikir "mau menang sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin ada pertanyaan seperti ini: Apa sih yang dikaji dalam Logika sampai kita harus mempelajarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pertanyaan yang bagus dan cukup tepat untuk kita bahas. Pada cabang Logika, kita akan mempelajari tiga materi yang pokok, yaitu: (1) sejarah dan perkembangan pemikiran logika beserta aliran-alirannya, (2) persoalan istilah beserta pengolahannya, dan (3) persoalan pernyataan beserta pengolahannya. Selebihnya, materi-materi yang khusus dapat ditambahkan. Namun, hal ini tidak akan keluar dari tiga materi pokok yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, mungkin lagi-lagi ada orang yang mencibir. Mungkin begini komentarnya: "Materi yang begitu kok dibela-belain harus dipelajari. Itu kan pelajaran bahasa Indonesia. Dari SD pun dah saya pelajari. Kenapa harus dipelajari lagi? Buang-buang waktu aja. Kirain mempelajari apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar ini tidak salah. Sebagian besar yang dipelajari Logika memang sudah diajarkan dalam pelajaran bahasa. Tetapi, pelajaran bahasa tidak mengajarkan pada kita untuk menelaah masalah-masalah istilah ataupun pernyataan dengan pengertian filosofis. Artinya, sesuatu istilah dapat saja memiliki beragam arti sesuai dengan pandangan orang yang mendefinisikannya. Untuk lebih jelasnya, kita akan coba bahas istilah "ya" dalam bahasa Indonesia dari sudut pandang bahasa maupun logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984) yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, istilah "ya" dapat berarti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (1) kata untuk menyatakan setuju; contoh: Ya, baiklah.&lt;br /&gt; (2) wahai; contoh: Ya tuanku!&lt;br /&gt; (3) ... bukan; contoh: Ia orang kaya, ya?&lt;br /&gt; (4) gerangan; contoh: Siapa ya yang tadi memanggil namaku?&lt;br /&gt; (5) penguat; contoh: Besok jangan lupa datang ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kelima contoh ini, sebenarnya sudah disebutkan beberapa alternatif yang cukup luas untuk pengertian istilah "ya". Walaupun demikian, saya dapat saja menambahkan konteks baru dalam pengertian istilah "ya". Misalnya, dalam kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (6) "Ya, kalau dia setuju. Kalau tidak, bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kalimat ini, istilah "ya" mengandung pengertian 'persetujuan yang bersyarat'. Artinya, istilah "ya" pada kalimat (6) berbeda pengertiannya dengan kalimat (1) yang saya kutipkan di atas karena persetujuannya tidak langsung terpenuhi dengan hanya mengatakan "ya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami uraian yang menggunakan contoh-contoh di atas, nampak bahwa apa yang diuraikan oleh Poerwadarminta atas pengertian istilah "ya" dari segi bahasa tidak dapat merangkum seluruh pengertian istilah "ya" yang mungkin akan muncul. Termasuk penjelasan yang sebaiknya diberikan untuk pengertian istilah "ya" dalam pengertian nomor (3). Kenapa istilah "ya" dalam bahasa Indonesia juga mengandung istilah negatif ('bukan')? Padahal, dalam bahasa Inggris, kita tidak menemukan istilah "yes" yang mengandung istilah negatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan serupa di atas pun tidak akan muncul kalau kita tidak menggunakan Logika sebagai dasar penalarannya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa pada uraian-uraian di muka, Logika mengajarkan kita memahami suatu istilah dalam berbagai konteks dan situasi. Ini dimungkinkan kalau kita dibiasakan untuk berpikir dengan beragam pandangan. Sehingga, pikiran kita tidak hanya tertuju pada satu pengertian saja dan akhirnya bisa terjatuh pada pikiran yang sempit. Apa yang ditulis dalam sebuah kamus dalam pelajaran bahasa tidak dapat dijadikan patokan dasar, walaupun dapat dijadikan acuan resmi untuk satu istilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, kita sudah melihat sedikit saja bagaimana Logika dipakai untuk memahami suatu istilah. Mungkin akan lebih baik lagi bagi kita dalam memahaminya bila kita juga lihat bagaimana Logika dipakai untuk menelaah pernyataan. Di posting yang berikut, insyaallah saya akan membahasnya lebih jauh. Jangan lupa komentar, kritik, dan sarannya. ;-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-765897727206524916?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/765897727206524916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=765897727206524916' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/765897727206524916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/765897727206524916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2009/01/logika-1.html' title='Logika (1), Pengantar dan Materi Pembahasan'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-1305826651585388184</id><published>2008-11-05T11:26:00.005+07:00</published><updated>2008-11-06T11:56:26.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi'/><title type='text'>Cabang Utama dalam Kajian Filsafat</title><content type='html'>Setelah beberapa lama absen, akhirnya saya bisa kembali lagi menulis. Kemarin-kemarin memang agak lelah dan capek soalnya. Banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Tetapi, itu tidak mengurangi semangat saya untuk melanjutkan blog ini. Oya, selamat membaca aja posting yang baru ini! ( ^_^ )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada posting yang berjudul &lt;a href="http://belajar-filsafat.blogspot.com/2008/10/ranah-kajian-filsafat.html"&gt;Ranah Kajian Filsafat&lt;/a&gt;, saya sudah menjelaskan kalau wilayah penelaahan filsafat dapat dibagi menjadi 3 bagian. Hal ini meliputi kajian tentang Dunia, Manusia, dan Tuhan. Dari tiga subjek ini, filsafat dapat dipilah menjadi beberapa cabang seperti telah diuraikan pada posting tersebut. Namun demikian, kali ini saya akan membahas cabang kajian filsafat dengan rumusan yang agak berbeda dengan yang telah dijelaskan. Untuk lebih jelasnya, hal ini akan diuraikan pada paragraf-paragraf di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mempelajari filsafat, para ahli biasanya mengatakan bahwa cabang utama kajian filsafat (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;main branches of philosophy&lt;/span&gt;) itu terdiri dari Logika, Metafisika, Etika, Epistemologi, Estetika, Theologia, maupun Filsafat Ilmu. Ada juga yang mengatakan cabang lainnya, tergantung pada sisi mana mereka memberikan titik tekannya. Bagi pakar filsafat yang memiliki kecenderungan untuk menekuni masalah-masalah kemanusiaan, Etika dan Filsafat Politik menjadi cabang yang disorot secara khusus. Ketika titik tekan itu bergeser pada masalah-masalah kealaman atau keilmuan, maka giliran Epistemologi, Filsafat Ilmu, ataupun Metodologi Filosofis yang menjadi tumpuan. Sedangkan bila kajian yang sifatnya transendental menjadi perhatian utama, maka cabang Theologia, Ontologi, dan Metafisika yang mendapat giliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena beragamnya titik tekan dalam memilah-milah cabang filsafat tersebut, tentu saja hal ini akan membuat filsafat menjadi sangat sukar dikaji. Sebab, ketika misalnya saya membaca filsuf yang sangat perhatian dengan masalah-masalah kemanusiaan, maka saya kehilangan arahan tentang kajian masalah kealaman dan juga masalah transendental. Begitupun juga ketika membaca filsuf yang memiliki titik tekan pada masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini biasa terjadi dan itu memang sewajarnya. Ini terjadi karena setiap filsuf memiliki spesialisasi atau kekhususan pikiran dalam corak filsafatnya. Akan tetapi, bagi seseorang yang baru belajar filsafat atau orang yang ingin belajar filsafat secara mudah, ini menjadi masalah yang cukup mengganjal. Sebab, dengan tiadanya kesepakatan di antara para filsuf, cabang utama kajian filsafat hingga kini tidak pernah ditetapkan. Akibatnya, orang itu akan "tersesat" di belantara filsafat yang cukup luas. (Nah lho...! Tapi mungkin saja saya keliru karena sudah ada buku baru tentang masalah ini. Hehe... Tolong kasih tahu ya kalau ada info tentang ini. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masalah-masalah di atas, dalam blog ini, saya memutuskan untuk menetapkan secara sederhana saja apa yang dimaksud dengan cabang utama kajian filsafat itu. Kriteria untuk ini adalah cabang tersebut dapat dipakai sebagai dasar untuk mengkaji semua masalah yang telah disebutkan tanpa harus terjatuh pada satu titik penekanan. Dengan demikian, orang yang ingin belajar filsafat dengan mudah akan lebih fokus mempelajari masalah-masalah tersebut tanpa harus bergelut dengan kebimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak cabang filsafat, sebenarnya ada empat cabang yang bisa dijadikan dasar untuk memahami cabang lainnya. Cabang ini pun dapat mewadahi berbagai masalah yang ada. Empat cabang filsafat yang dimaksud adalah: Logika, Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi. Cabang filsafat ini dapat dipelajari berurutan. Berikut adalah penjelasan kenapa cabang filsafat ini dapat dipelajari secara bertahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir, secara umum, adalah kegiatan yang biasa dilakukan manusia. Tanpa ini, manusia tidak akan bisa bertahan dalam lingkungannya ataupun menyesuaikan diri dengan yang lainnya. Namun, berpikir saja tidak cukup. Ada cara-cara berpikir yang baik dan itu menjadi pedoman baginya agar tidak berpikir secara gegabah, sembrono, semaunya, sampai pada pikiran yang sesat. Cara inilah yang disediakan Logika. Selanjutnya, dengan berpikir, manusia bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mengetahui sesuatu&lt;/span&gt; (= Epistemologi), yang juga merupakan kunci pemahaman atas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sesuatu yang ada&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sesuatu yang mungkin adanya&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sesuatu yang tidak ada&lt;/span&gt; (= Ontologi). Baru setelah itu, kita dapat melakukan sesuatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;penilaian&lt;/span&gt; atas apa yang kita pahami atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;memahami nilai&lt;/span&gt; dari apa yang kita pahami (= Aksiologi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa empat cabang itu cukup netral dan bisa dipakai untuk mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia, manusia, ataupun Tuhan. Oleh karena itu, empat cabang filsafat inilah yang akan saya jadikan dasar untuk masuk dalam cabang-cabang filsafat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, "Apakah Nazi-isme (berkaitan dengan partai politik Nazi yang didirikan oleh Adolf Hitler di Jerman) itu pola pikirnya keliru apa tidak?"&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, kita masuk dalam pembahasan Filsafat Politik melalui Logika.&lt;br /&gt;Contoh lain: "Apakah kita dapat mengetahui awal terciptanya jagat raya?"&lt;br /&gt;Pada soal ini, aspek Epistemologis menjadi dasar untuk memahami Kosmologi.&lt;br /&gt;Begitupun dengan masalah-masalah lain dalam filsafat. Semuanya dapat dipahami dengan baik asalkan kita benar-benar memahami empat cabang filsafat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, silahkan Anda mencari informasi tentang empat cabang filsafat tersebut. Ini karena dalam posting selanjutnya, saya akan membahas empat cabang filsafat ini satu per satu. Tentunya, kita akan mulai dari Logika terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca... (^_^)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-1305826651585388184?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/1305826651585388184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=1305826651585388184' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/1305826651585388184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/1305826651585388184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/11/cabang-utama-dalam-kajian-filsafat.html' title='Cabang Utama dalam Kajian Filsafat'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-7681193831381279392</id><published>2008-10-11T18:42:00.009+07:00</published><updated>2008-10-11T19:31:13.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi'/><title type='text'>Ranah Kajian Filsafat</title><content type='html'>Sekarang ini, mungkin sudah saatnya kita mempelajari apa yang disebut dengan ranah atau wilayah kajian filsafat. Ini menjadi penting dipelajari agar kita memiliki suatu gambaran yang cukup tentang apa-apa yang akan dipelajari dalam filsafat. Ya, ini mirip dengan peta jalan yang kita gunakan sebagai panduan untuk bepergian agar kita sampai pada tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam konteks belajar kita, memahami ranah kajian filsafat akan memberikan suatu arah yang pasti untuk dapat memilih cabang filsafat yang sesuai, atau siapa filsuf yang cocok, atau gaya filosofi apa yang disukai oleh kita secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan saya pribadi, ranah kajian filsafat dapat dipilah menjadi tiga wilayah pokok kajian. Pertama mengenai "dunia" di mana kita tinggal. Setelah itu, pemahaman atas "diri" manusia sendiri. Yang terakhir, ini adalah pemahaman mengenai wilayah "transenden" (&lt;em&gt;transcendence&lt;/em&gt;).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang kita tinggali menjadi objek pertama perhatian renungan filosofis itu karena kita biasanya selalu punya perhatian yang lebih atas sesuatu yang ada di luar kita. Misalnya, ada ungkapan yang mengatakan bahwa "rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput yang ada di halaman rumah kita". Hal ini terjadi atas dasar pengaruh rasa kagum akan sesuatu yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Namun demikian, setelah kita sadar dengan apa yang kita miliki atau sadar akan diri kita sendiri, biasanya kita akan mencoba untuk instropeksi atau meninjau diri kita sendiri. Pertanyaan seperti apakah kita dan secara umum pertanyaan siapa manusia itu akan terbersit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertanyaan serupa ini muncul, pertanyaan tentang masalah "penciptaan" akan menghampiri. Karena ada dunia dan manusia, tentu ada yang menciptakannya. Inilah yang disebut sebagai masalah transenden dalam filsafat. Kenapa disebut dengan transenden? Ya, ini sebenarnya karena sesuatu yang berhubungan dengan penciptaan dunia dan manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar pengetahuan manusia. Sementara itu, masalah yang berhubungan dengan manusia dan dunia seringkali dinamakan dengan "immanen" (&lt;em&gt;immanence&lt;/em&gt;), serta dilawankan dengan pengertian transenden. Disebut immanen karena ini berhubungan langsung dengan pengalaman manusia itu sendiri. (Apa ga ada istilah yang lebih mudah dipahami? ^_^ )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana masalah immanen dan transenden ini harus dipahami dalam kaitannya dengan cabang kajian filsafat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemahaman mengenai dunia, kita sebenarnya sedang bergerak memasuki cabang filsafat yang disebut dengan Kosmologi (&lt;em&gt;Cosmology&lt;/em&gt;). Berasal dari kata Yunani, kosmos (yang berarti dunia atau juga teratur), Kosmologi adalah cabang filsafat yang mengkaji masalah asal muasal alam semesta beserta proses terciptanya. Berdasar pada kajian mengenai dunia inilah juga lahir ilmu-ilmu kealaman, yaitu: Astronomi, Geologi, Fisika, Kimia, dan Biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kajian mengenai manusia, kita akan menemukan hubungan dengan berbagai macam cabang filsafat. Ada kajian Filsafat Manusia (&lt;em&gt;Philosophical Antropology&lt;/em&gt;), Filsafat Pengetahuan (&lt;em&gt;Epistemology&lt;/em&gt;), Filsafat Nilai (&lt;em&gt;Axiology&lt;/em&gt;), Filsafat Moral atau Etika (&lt;em&gt;Ethics&lt;/em&gt;), Filsafat Sosial (&lt;em&gt;Social Philosophy&lt;/em&gt;), Filsafat Akal (&lt;em&gt;Philosophy of Mind&lt;/em&gt;), Logika (&lt;em&gt;Logics&lt;/em&gt;), Filsafat Ilmu (&lt;em&gt;Philosophy of Sciences&lt;/em&gt;), hingga Filsafat Bahasa (&lt;em&gt;Philosophy of Language&lt;/em&gt;). Dari kajian mengenai manusia pula lahir ilmu-ilmu kemanusiaan (&lt;em&gt;humanity sciences&lt;/em&gt;) dan ilmu-ilmu sosial (&lt;em&gt;social sciences&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada kajian atas masalah transendensi, ini secara khusus dikaji dalam cabang filsafat yang disebut dengan Metafisika (&lt;em&gt;Metaphysics&lt;/em&gt;). Namun demikian, kita jangan salah paham dulu dengan istilah Metafisika. Walaupun Metafisika itu mengkaji sesuatu yang berada di luar wilayah fisik atau melampaui wilayah fisik, ini tidak kemudian mengandaikan bahwa Metafisika berurusan dengan klenik ataupun magis. Sebab, Metafisika itu memiliki fokus pembicaraan tentang masalah-masalah "ada" (&lt;em&gt;being&lt;/em&gt;) dan "kenyataan" (&lt;em&gt;reality&lt;/em&gt;). Selain Metafisika, masih dalam masalah transenden, ada cabang filsafat yang mengkaji tentang masalah Pencipta atau Tuhan, yaitu dalam Filsafat Ketuhanan (&lt;em&gt;Theological Philosophy&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dari tiga wilayah pokok kajian ini, kita dapat melihat bahwa sedemikian luasnya kajian filsafat itu. Oleh karenanya, sebagian besar filsuf mengatakan bahwa pokok kajian filsafat hanya dibatasi oleh masalah "tiada" (&lt;em&gt;nothing&lt;/em&gt;). "Segala sesuatu yang ada" itu adalah pokok kajian utama dari filsafat. Namun, secara khusus, cabang filsafat yang mengkaji masalah "ada" dan "tiada" pun telah muncul. Inilah yang disebut dengan Ontologi (&lt;em&gt;Ontology&lt;/em&gt;). (Aduh mak, luas banget tuh wilayahnya. Mudah-mudahan ga nyasar nih ...! ;-) ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, uraian singkat mengenai ranah atau wilayah kajian filsafat. Pada posting selanjutnya, kita akan mempelajari cabang kajian filsafatnya satu-satu. Supaya Anda mendapatkan gambaran tentang ini secara lebih baik, Anda sebaiknya membaca referensi yang saya sebutkan di bawah ini. Paling tidak, dengan melakukan ini, Anda dapat mengecek apakah ada uraian-uraian saya yang kurang dipahami atau malah menemukan adanya kekeliruan. Selamat membaca referensinya ya! (Wah, ko malah ngantuk bacanya? Bangun-bangun ...! Minum kopi dulu ya? Hehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harry Hammersma, 1998, &lt;em&gt;Pintu Masuk ke Dunia Filsafat&lt;/em&gt;, Cet. XVI, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;2. Milton D. Hunnex, 1986, &lt;em&gt;Chronological and Thematic Charts of Philosophies and Philosophers&lt;/em&gt;, Academie Books, Michigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-7681193831381279392?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/7681193831381279392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=7681193831381279392' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7681193831381279392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7681193831381279392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/10/ranah-kajian-filsafat.html' title='Ranah Kajian Filsafat'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-5346254095180721124</id><published>2008-10-08T05:09:00.003+07:00</published><updated>2008-10-08T10:50:30.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi'/><title type='text'>Cara Belajar Filsafat (2)</title><content type='html'>Mungkin Anda sudah membaca tulisan saya yang berjudul &lt;a href="http://belajar-filsafat.blogspot.com/2008/10/cara-belajar-filsafat-1.html"&gt;Cara Belajar Filsafat (1)&lt;/a&gt;. Dalam tulisan itu dijelaskan cara saya belajar filsafat untuk pertama kalinya dan perjalanan saya ketika belajar filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hingga akhirnya lulus di tahun 2003. Walaupun belajar dengan serabutan, saya masih bisa belajar filsafat dengan baik karena tertolong dengan perkuliahan yang saya ikuti di fakultas. Namun, dalam bayangan saya, seandainya saya tidak pernah menjadi mahasiswa filsafat, mungkin ceritanya akan lain. Saya mungkin belum tentu bisa belajar filsafat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pikiran serupa ini, muncul gagasan dalam benak saya untuk mencari tahu cara belajar filsafat yang baik dengan lebih mudah dan sederhana. Mudah dengan arti kita dapat mempelajari filsafat tanpa kepayahan, dan sederhana yang berarti kita akan dapat belajar filsafat tanpa harus dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet atau susah dicerna. Walaupun demikian, gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena mungkin ada banyak orang yang sudah menerapkan gagasan ini lebih baik dari saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah Jostein Gaarder, seorang pengajar filsafat dari Oslo, Norwegia, yang mengarang buku "Sofies verden" (&lt;em&gt;Sophie's World&lt;/em&gt;) sebagai wahana baru untuk menjelaskan sejarah filsafat melalui novel.  Versi Indonesia untuk buku ini telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul &lt;em&gt;Dunia Sophie&lt;/em&gt;. Selain pada Gaarder, saya juga berhutang budi pada mas Antariksa, salah seorang senior saya di Fakultas Filsafat UGM. Dia yang mengajarkan pada saya, walaupun tidak secara langsung, untuk belajar filsafat secara &lt;em&gt;having fun&lt;/em&gt; atau menyenangkan. Itu karena dia adalah orang yang tidak mau dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet. (Mas Antariksa ini aktif mengelola jurnal &lt;a href="http://kunci.or.id/index.html"&gt;Kunci&lt;/a&gt; yang mengangkat tema &lt;em&gt;Cultural Studies&lt;/em&gt; semenjak 1999 hingga sekarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaarder memberikan contoh buat saya untuk mempelajari filsafat dengan enak dan mas Antariksa mengajarkan pada saya untuk tidak selalu berpaku pada teori filsafat yang njelimet. Namun, tidak ada yang mengajarkan pada saya suatu cara untuk belajar filsafat dengan mudah. Meskipun begitu, saya tidak pernah merasa segan untuk mencari cara belajar filsafat dengan mudah. Ini diperuntukkan bukan hanya bagi saya secara pribadi, tetapi juga bagi Anda yang senang belajar filsafat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan solusinya, saya akan mencoba menganalisis terlebih dahulu cara belajar saya yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya belajar filsafat untuk yang pertama kali, saya ini sebenarnya menggunakan cara &lt;em&gt;learn by try&lt;/em&gt; (belajar dengan coba-coba). Ini adalah cara belajar yang umum dipakai oleh setiap orang ketika ia dihadapkan pada masalah atau persoalan yang belum ia kenal sepenuhnya. Bahkan, pada riset yang paling canggih sekalipun di bidang ilmu dan teknologi, cara ini masih dipakai. Terutama untuk menemukan sesuatu yang baru dan riset itu tidak pernah dilakukan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, tetap ada kelemahan dalam cara ini. Sebab, cara belajar seperti ini lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Padahal, kita tahu, setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan harta yang terbatas. Dalam kaitannya dengan masalah ini, belajar filsafat seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah. Itu karena dalam pikiran orang awam, filsuf itu dibayar hanya untuk "melamun". (Wah, enak dung? ^_^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita sebaiknya memilih cara belajar yang lain. Cara belajar lainnya yang mungkin dapat kita lakukan ada dua macam, yaitu (1) &lt;em&gt;learn by experience&lt;/em&gt; dan (2) &lt;em&gt;learn by guidance&lt;/em&gt;. Cara belajar pertama difokuskan pada bagaimana caranya kita mempelajari sesuatu dengan berdasarkan pada pengalaman yang kita miliki. Sedangkan pada yang kedua, cara belajarnya terfokus pada petunjuk yang akan mengarahkan kita pada tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cara belajar yang pertama, belajar filsafat akan menjadi lebih mudah dipahami bila masalah filsafatnya dikaitkan dan dijelaskan dengan apa yang kita alami sehari-hari. Contoh untuk uraian ini sudah saya terapkan ketika saya menjelaskan kenapa kita harus belajar filsafat dalam posting &lt;a href="http://belajar-filsafat.blogspot.com/2008/08/mengapa-belajar-filsafat.html"&gt;Mengapa Belajar Filsafat?&lt;/a&gt; dan posting yang berjudul &lt;a href="http://belajar-filsafat.blogspot.com/2008/09/mau-ke-mana.html"&gt;Mau ke mana?&lt;/a&gt; yang menjelaskan arah kita dalam berfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada cara belajar yang kedua, inilah yang ditempuh ketika seseorang belajar filsafat di perguruan tinggi. Namun, model belajar filsafat di perguruan tinggi menjadi tidak efektif ketika dilaksanakan dalam kelas yang besar dan terdiri dari banyak orang. Belajar filsafat dengan model &lt;em&gt;learn by guidance&lt;/em&gt; hanya akan berlaku efektif bila diterapkan pada hubungan Guru dan Murid satu-satu. Artinya, murid ini dibimbing khusus secara pribadi oleh seorang Guru. Ini mirip ketika seorang mahasiswa mengajukan skripsi sebagai syarat untuk ujian akhir yang dibantu oleh Dosen Pembimbing. (Kalau dosennya bukan ahli di bidang yang dipilih ma mahasiswa gimana ya? Hehe...) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan model-model belajar yang telah disebutkan, memang masing-masing cara belajar memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun, yang terpenting sekarang ini, bagaimana menggunakan tiga model belajar tersebut secara komplementer (saling melengkapi) ketika kita belajar filsafat. Oleh karena kita menginginkan belajar filsafat dengan mudah dan sederhana, maka tentu saja ada cara yang efektif dalam menggunakannya. Berikut ini, ada beberapa tip yang bisa Anda gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Untuk tema-tema yang pokok dan mungkin relatif sulit dicerna, khususnya yang berkaitan dengan tema Filsafat Sistematis dan Filsafat Regional, Anda sebaiknya menggunakan cara belajar belajar filsafat dengan model &lt;em&gt;learn by guidance&lt;/em&gt;. Sebab, cabang filsafat seperti Logika, Ontologi, Aksiologi, serta Epistemologi tidak setiap orang suka dan menguasainya. Apalagi cabang yang sangat khusus dan berhubungan dengan ilmu lain, misalnya Filsafat Hukum dan Filsafat Matematika, orang yang belajar ini sedikitnya dituntut untuk menguasai masalah hukum dan matematika. Terus, berkaitan dengan Filsafat Regional, learn by guidance akan sangat membantu ketika Anda harus membaca teks-teks orisinal dalam bahasa-bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Hindi, Cina), maupun bahasa-bahasa nusantara (seperti bahasa Melayu, Batak, Sunda, Jawa, dan bahasa lainnya).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;Untuk tema Filsafat Historis, Anda bisa menggunakan model &lt;em&gt;learn by try&lt;/em&gt; karena ini relatif mudah dicerna dan dapat dilakukan secara otodidak. Hal ini dapat terlaksana karena teks sejarah biasanya ditulis dalam gaya naratif atau cerita. Referensi yang paling baik untuk ini adalah buku Jostein Gaarder tersebut di muka yang berjudul &lt;em&gt;Dunia Sophie&lt;/em&gt; dari penerbit Mizan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;Untuk berfilsafat secara mandiri, model yang paling cocok adalah model &lt;em&gt;learn by experience&lt;/em&gt;. Di sini, usahakan Anda temukan kaitan yang paling dekat antara suatu masalah filsafat dengan pengalaman sehari-hari.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt; &lt;br /&gt;Nah, mungkin ini yang bisa saya sampaikan untuk penjelasan mengenai cara belajar filsafat yang mudah sekarang ini. Mudah-mudahan ini bisa membantu Anda belajar filsafat secara lebih baik. ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-5346254095180721124?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/5346254095180721124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=5346254095180721124' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/5346254095180721124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/5346254095180721124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/10/cara-belajar-filsafat-2.html' title='Cara Belajar Filsafat (2)'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-7632978228036076226</id><published>2008-10-03T18:49:00.004+07:00</published><updated>2008-10-03T23:18:11.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi'/><title type='text'>Cara Belajar Filsafat (1)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Salam ... !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bertemu lagi dengan saya di sini. Pertama-tama saya mau ucapin maaf yang sebesar-besarnya karena postingnya telat lagi. Kedua, saya ingin mengucapkan selamat Idul Fitri 1429H dan semoga segala sesuatunya menjadi hikmah dan berkah buat Anda semua. Ketiga, saya lupa lagi. Hehe ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, sesuai judulnya, sekarang ini kita akan membahas cara belajar filsafat. Ini merupakan materi yang gampang-gampang susah untuk dilaksanakan. Sebab, cara belajar sangat bergantung pada karakter masing-masing pribadi yang amat khas. Ada pribadi yang suka belajar dengan tekun dan rutin. Ada yang senang belajar sambil bersantai dan mendengarkan musik. Ada pula yang hanya belajar pada saat mau ujian, alias belajar dengan model SKS (Sistem Kebut Semalam). (Kebanyakan orang Indonesia kayaknya lebih suka dengan yang terakhir. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam kaitannya dengan cara belajar filsafat, karakter seperti ini akan sangat mempengaruhi pola belajar filsafat. Walaupun demikian, tetap saja ada pola umum yang dapat kita pakai dalam mempelajari filsafat. Di sini, saya akan mengetengahkan pola umum yang paling mudah dilaksanakan. Cara belajar yang dimaksud akan dijelaskan melalui contoh ketika saya belajar filsafat pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda mempelajari filsafat pertama kali, tentunya kebingungan akan hadir dan terus membayangi Anda. Anda biasanya akan dibingungkan oleh masalah-masalah: saya harus belajar dari mana, saya harus belajar apa; apakah saya harus belajar dengan sistematik atau tidak; apakah saya harus mempelajari seluruh materi filsafat atau hanya sebagian saja; apakah ada manfaatnya kalau belajar filsafat apa tidak; apakah saya akan 'gila' atau menjadi 'tidak waras' kalau belajar filsafat apa tidak; dan yang terakhir, mungkinkah saya belajar filsafat apa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebingungan atau kekhawatiran yang muncul ini adalah wajar dan saya juga mengalaminya. Pada saat situasi ini muncul, dulu saya memilih untuk belajar filsafat dengan cara mempelajari sejarahnya. Artinya, saya mulai masuk dalam dunia filsafat dengan mengawalinya pada materi sejarah filsafat. Walaupun cukup efektif buat saya ketika itu, namun saya dihadapkan pada pengembaraan nan panjang dan melelahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, saya dengan tidak sadar 'dipaksa' untuk mempelajari sejarah filsafat yang terentang selama kurang lebih dari 2500 tahun. Saya larut dan kemudian mempelajari secara otodidak sejarah filsafat Yunani, Islam, India, Cina, Barat di masa Abad Pertengahan, Abad Pencerahan, Abad XVI hingga Abad XX. Walaupun tidak sepenuhnya otodidak karena saya mendapatkan arahan dari mata kuliah sejarah filsafat yang diberikan di Fakultas, saya tetap merasa tidak puas dengan uraian-uraian dosen saya tersebut. Pernah satu waktu saya bertanya dalam mata kuliah Sejarah Filsafat Islam tentang teori Emanasi yang diungkapkan Al-Farabi mengikuti uraian Emanasi Plotinus, dosen saya tersebut malah bilang untuk tidak 'ngeyel'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya-tanya dalam hati. Saya kan kuliah untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban. Kenapa malah saya tidak boleh bertanya tentang masalah itu? Walaupun agak nggrundel dalam hati, saya tetap ikuti kuliah itu hingga akhir. Saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Sejarah Filsafat Islam. Tetapi saya tidak mendapatkan pengetahuan apapun kecuali pengenalan terhadap tokoh-tokoh Filsafat Islam beserta pengenalan atas teori-teori yang diungkapkannya. Akhirnya, saya mulai mendapatkan sedikit gambaran yang cukup baik ketika memutuskan untuk membaca buku biografi Ibn Sina secara otodidak tanpa terlalu peduli dengan buku teks yang dianjurkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah gambaran sederhana cara saya belajar filsafat untuk pertama kali. Meskipun begitu, ketika saya mulai masuk dalam ranah kajian filsafat secara lebih jauh, saya kembali dihadapkan pada kebingungan untuk memilih cabang filsafat apa yang akan saya telaah lebih serius. Apakah Metafisika atau Ontologi, Aksiologi, Etika, Epistemologi, Filsafat Ilmu, atau cabang lainnya. Saya mencoba memulainya dari Metafisika. Namun, karena kekurangan referensi yang membahas bidang ini, saya urung mempelajarinya secara serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik terang untuk mempelajari cabang filsafat mulai muncul lagi-lagi karena pengembaraan saya dalam sejarah filsafat. Kali ini saya terpikat dengan tokoh yang bernama Ludwig Wittgenstein. Ia adalah seorang filsuf Jerman-Inggris yang menekuni bidang Mesin Pesawat Terbang di awal kuliah, namun berbelot menekuni filsafat karena dorongan untuk mempelajari Matematika secara lebih mendalam. Melalui Wittgenstein, saya didorong untuk menekuni Filsafat Bahasa hingga akhirnya bergerak ke bidang Semiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya asyik dengan semua pembelajaran itu, tak terasa saya harus menyiapkan skripsi sebagai ujian terakhir mempelajari filsafat di kampus pada tahun 1999. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil tema apa yang sesuai dengan minat filosofis saya waktu itu. Saya siapkan judul mulai dari tema Logika, teori "&lt;em&gt;Public Sphere&lt;/em&gt;"-nya Jurgen Habermas, hingga kajian mengenai Wittgenstein itu sendiri. Namun demikian, saya malah tertambat hati dengan tema &lt;em&gt;Cyberspace&lt;/em&gt; setelah membeli buku &lt;em&gt;Cyberspace for Beginner&lt;/em&gt; terbitan Mizan dari tukang buku loakan di jalan yang membelah kampus IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) ke arah jalan Gejayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan pun dibuat dan akhirnya saya mengajukan skripsi filsafat dengan tema &lt;em&gt;Cyberspace&lt;/em&gt;. Teman-teman di kampus pun rada-rada kaget. Apa hubungannya &lt;em&gt;Cyberspace&lt;/em&gt; dengan filsafat? Mereka mengajukan pertanyaan itu sering kali. Bagaimana pun juga itu adalah sesuatu yang lumrah karena di tahun 1999 Internet belum begitu menjamur dan hanya sedikit orang yang paham akan Internet. Tetapi, saya nekat. Saya paksa diri saya untuk belajar sesuatu yang baru untuk menemukan sisi filosofisnya. Akhirnya, melalui perjuangan selama empat tahun, jadilah skripsi saya. (Duh, lama banget bikinnya! Termasuk orang yang menyandang gelar MA (Mahasiswa Abadi) ya? ... Iya nih, gak salah tuh. Hehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, ko jadi cerita ya? Maaf, tapi inilah cara saya belajar filsafat. Jadi, saya terpaksa memaparkannya panjang lebar untuk menjelaskan pola belajar filsafat yang saya miliki. Terkesan serabutan dan tidak efektif memang, meski mudah untuk dilaksanakan. Oleh karena alasan ini, saya akan mencoba untuk menyusun cara belajar filsafat yang lebih efisien dan efektif pada posting selanjutnya. Demikian, tulisan saya untuk cara belajar filsafat bagian pertama. Mohon kritik dan sarannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-7632978228036076226?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/7632978228036076226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=7632978228036076226' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7632978228036076226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7632978228036076226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/10/cara-belajar-filsafat-1.html' title='Cara Belajar Filsafat (1)'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-7456893046371397683</id><published>2008-09-14T04:23:00.005+07:00</published><updated>2008-09-14T07:14:10.026+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Mau ke mana?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah kita mempelajari beberapa tulisan pengantar mengenai filsafat, tentu muncul lagi pertanyaan dalam benak kita. Pertanyaan itu tidak lain daripada "Kita harus mulai belajar filsafatnya darimana?" Kalau ini memang pertanyaan Anda, maka pertanyaan ini kira-kira akan memiliki jawaban sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar filsafat sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan yang paling Anda sukai atau paling membuat Anda bingung. Kenapa demikian? ;-) Ini karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan memberikan energi kreatif buat Anda untuk belajar filsafat. Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas dalam contoh di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani punya satu pertanyaan dalam hidup yang mungkin ia sukai. Pertanyaan itu adalah "Kenapa kucing disebut dengan kata 'kucing' atau gajah disebut dengan kata 'gajah'?". Atas pertanyaan ini, Ani juga sering membuat lelucon pada temannya dengan pertanyaan "Kenapa kucing ga disebut dengan 'gajah' atau gajah kenapa ga dibilang saja 'kucing'?". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Ani ini, walaupun hanya bercanda, tetapi punya akibat yang cukup jauh lho kalau kita pikirkan secara serius. (Walaupun sebenarnya ga serius-serius banget. Hehe... )  Ini berkaitan dengan asal-usul kata. Asal-usul kata atau bahasa kerennya adalah etimologi, sebenarnya berkaitan dengan pengetahuan kita sebagai manusia. Dalam kata yang kita pergunakan sehari-hari, itulah inti dari pengetahuan kita. Misalnya, ketika saya menggunakan kata 'globalisasi', saya semestinya sudah memahami arti kata ini sebelum memakainya. Jadi, pengetahuan saya atas globalisasi akan mewarnai cara saya menggunakan kata tersebut. Kalau pengetahuan saya tidak terlalu baik mengenai globalisasi, maka saya akan jarang menggunakan kata ini. Begitupun sebaliknya. (Tapi, jangan salah juga nih. Banyak di antara kita yang sering menggunakan kata globalisasi lho! Itu tuh, persis dilakukan oleh para kepala desa yang pengen dianggap pintar atau para calon kepala desa yang sok tahu dan biar dibilang keren. Hehe... Eh, maaf, hanya sebagian aja lagi. ;-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pertanyaan Ani, seekor kucing disebut dengan 'kucing' atau gajah disebut dengan 'gajah' ini karena kesepakatan. Walaupun ada banyak alternatif kata untuk kucing, seperti 'meong' atau 'puspus', tetapi kata 'kucing' lah yang dipilih oleh masyarakat sebagai istilah untuk hewan yang diberi nama kucing. Kalau masyarakat sepakat dengan kata 'gajah' untuk nama yang ditujukan bagi hewan yang sebenarnya bernama kucing, maka jadilah 'gajah' ini kata baru untuk hewan yang bernama kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pertanyaan yang Ani ajukan, kita secara tidak langsung sebenarnya dibawa masuk pada ranah atau wilayah filsafat yang disebut dengan epistemologi dan sekaligus filsafat bahasa. Epistemologi adalah suatu cabang kajian utama dalam filsafat yang mempelajari bagaimana pengetahuan itu diperoleh, dibentuk, dan dipergunakan oleh manusia. Sedangkan filsafat bahasa, ini adalah cabang lain dari filsafat yang secara khusus mempelajari apa itu bahasa dan seluk-beluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pertanyaan mulai dari manakah kita harusnya belajar filsafat ditentukan oleh pertanyaan awal yang kita buat. Sebab, melalui pertanyaan yang kita buat akan menentukan arah kita belajar filsafat selanjutnya. Kita harus belajar apa dan mau ke mana kita menuju, semuanya kembali pada pertanyaan awal kita yang mendasar. Inilah yang mungkin dimaksud dengan &lt;em&gt;directions in philosophy&lt;/em&gt;. So, buatlah satu pertanyaan terlebih dahulu yang paling menarik buat Anda sebelum belajar lagi filsafat bersama saya. ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-7456893046371397683?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/7456893046371397683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=7456893046371397683' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7456893046371397683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7456893046371397683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/09/mau-ke-mana.html' title='Mau ke mana?'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-6612166255674487080</id><published>2008-08-29T13:19:00.001+07:00</published><updated>2008-08-29T15:59:33.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Belajar Filsafat atau Berfilsafat?</title><content type='html'>Dalam mempelajari filsafat, sebenarnya ada dua model yang mungkin dapat kita pakai sebagai pilihan. Pertama, mempelajari filsafat secara teoretis, dan yang kedua, mempelajari filsafat secara praktis. Pada pilihan yang pertama, kita dihadapkan pada keharusan untuk belajar filsafat secara teknis dari buku-buku, seminar, kursus, ataupun melalui perkuliahan di pendidikan tinggi. Apa yang kita pelajari di sini adalah "pikiran orang lain tentang filsafat". Ini sama artinya kita dituntut untuk memahami orang lain dalam kerangka sejarah berpikir umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model yang kedua, ketika kita mempelajari filsafat secara praktis, maka kita akan belajar filsafat melalui hal-hal yang sederhana. Jalan ini sebenarnya sudah dipraktekkan jauh-jauh hari sebelum abad masehi oleh Thales dari Miletos, Yunani. Beliau mempelajari alam sekitarnya untuk mendapatkan kesimpulan bahwa hakikat segala sesuatu terletak pada air sebagai zat yang paling mendasar. Jadi, melalui pemahaman Thales akan dunia sekitarnya, filsafat dipraktekkan sebagai jalan untuk memahami sesuatu. Pada konteks ini, sesuatu yang ingin dipahami Thales adalah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sehubungan dengan dua model belajar filsafat ini, maka kita dapat saja memilih salah satunya. Bila jalan pertama yang ditempuh, pada tingkatan yang lebih lanjut, Anda akan terarah menjadi seorang "ahli filsafat". Sedangkan bila jalan kedua yang ditempuh, Anda akan terarah menjadi "filsuf". Lalu, apa bedanya ahli filsafat dengan filsuf?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli filsafat sebenarnya lebih banyak menguasai teori yang diungkapkan oleh para filsuf tentang hakikat sesuatu. Dia ini bekerja untuk menguji benar tidaknya teori-teori filsafat secara akademis. Bila seorang ahli filsafat mampu mengkritik dan membangun suatu pandangan baru dari teori filsafat yang diujinya, maka ahli filsafat statusnya bergeser menjadi filsuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk filsuf, dia ini sebenarnya adalah orang yang mempraktekkan filsafat baik secara langsung ataupun tidak langsung, hingga dia mendapatkan kesimpulan atas hakikat sesuatu hal yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang umumnya. Pandangannya atas sesuatu hal biasanya sangat khas dan merupakan pandangan yang baru untuk sesuatu halnya itu. Filsuf tidak mesti berasal dari ahli filsafat karena mungkin saja seseorang punya suatu teori filsafat tanpa harus belajar filsafat secara teknis. Namun, seseorang akan bergelar sebagai filsuf bila ia diakui telah menelurkan teori filsafat yang dapat diuji secara akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, belajar filsafat dapat memiliki beberapa maksud. Ada maksud hanya ingin mengetahui filsafat itu seperti apa, ada yang belajar filsafat karena tertarik dengan apa yang dipelajarinya, ada yang karena ingin menjadi seorang ahli filsafat atau filsuf, atau belajar filsafat karena suatu kebutuhan. Barangkali, yang terakhir inilah yang menjadi maksud saya untuk belajar filsafat. ;-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-6612166255674487080?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/6612166255674487080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=6612166255674487080' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/6612166255674487080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/6612166255674487080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/08/belajar-filsafat-atau-berfilsafat.html' title='Belajar Filsafat atau Berfilsafat?'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-7788867814976770374</id><published>2008-08-22T22:57:00.003+07:00</published><updated>2008-08-23T00:47:11.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Mengapa Belajar Filsafat?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Aduh, ditanya lagi? Kenapa harus memulai dengan pertanyaan sih? Apa ga bisa dimulai dengan pernyataan aja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang mungkin ada dalam benak kita ketika membaca judul di atas. Tapi, jangan heran, sebab filsafat ternyata mengajarkan kita untuk bertanya terlebih dahulu sebelum sampai di wilayah filsafat itu sendiri. Kalau kita sudah membuat satu pertanyaan penting dalam hidup kita, maka kita akan berjalan menuju wilayah filsafat dengan pasti. Jadi, sudahkah Anda membuat pertanyaan itu? ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya begini. Apakah yang dinamakan blog itu? Secara sederhana tentu kita dapat menjawab bahwa blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital". Atau, mungkin Anda punya jawaban ini, blog adalah "diari elektronik".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari pertanyaan sederhana tentang blog saja kita sudah mendapat dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama kayaknya terlalu formal, dan jawaban yang kedua lebih mudah kita ingat. Ini sudah menimbulkan sedikit masalah sebenarnya, karena kita mungkin bingung untuk memilih jawaban yang pertama apa jawaban kedua.  Atau, malah Anda punya jawaban lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambahnya jawaban, walaupun hanya satu, menandakan bahwa pikiran kita yang bingung mulai berkembang untuk mengatasi masalah tersebut. Ada jawaban A, B, hingga Z mungkin. Oleh karenanya, dibutuhkan kemauan dan kesanggupan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks ini, filsafat sebenarnya membantu kita untuk menata persoalan. Dalam kasus di atas,  kalau kita memiliki jawaban lain yang mengatakan bahwa blog itu adalah "cara baru untuk bertegur sapa", kenapa ga kita coba aja membandingkannya dengan jawaban di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A --&gt; Blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B --&gt; Blog adalah "diari elektronik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C --&gt; Blog adalah "cara baru untuk bertegur sapa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wah, ini gimana ini maksudnya? Kok bikin pusing aja sih! Hikks ... Tenang, bentar lagi kok. Lebih baek Anda minum dulu es teh atau jus yang sudah dipesan. Ben seger lho belajarnya! Hehe ...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pengertian ini kalau kita ambil yang pokoknya akan terdiri dari beberapa istilah penting, yaitu: "tempat", "ekspresi", "bebas", "dunia digital", "diari", "elektronik", "cara", dan "tegur sapa". Istilah-istilah ini kan bisa kita rangkai lagi menjadi pengertian baru menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog adalah "cara berekspresi di dunia digital atau diari yang kita buat secara elektronik dan menjadi tempat untuk bertegur sapa dengan bebas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lho! Muncul deh jawaban baru yang merangkum semua jawaban. Inilah gambaran sederhana bagaimana kita berfilsafat. Seperti yang sudah saya singgung dalam posting sebelumnya, filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu". Itu sudah kita terapkan pada langkah-langkah kita untuk menyarikan jawaban baru untuk pengertian blog dari tiga jawaban sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, inilah salah satu alasan kenapa kita belajar filsafat. Kita kan butuh satu cara untuk lebih memahami masalah-masalah kita; memahami keluarga, saudara, kerabat, sahabat, teman, teman dekat, pacar, "selingkuhan" (ni kalo punya lho! tapi dilarang keras menggunakan filsafat untuk mendapatkan selingkuhan y? hehe ...), kolega, orang asing, orang utan, dan macam-macam orang yang sejenis dengan "manusia"; juga yang terpenting memahami tujuan hidup kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat yang lebih jauh, dengan belajar filsafat atau tepatnya belajar memahami secara lebih baik, kita tidak akan menjadi egois alias mengaku yang paling benar. Kalau ada di antara kita yang tukang nyalahin orang itu berarti dia belum belajar filsafat. Dia hanya "belajar teori filsafat". Jadi, maukah Anda belajar filsafat bersama saya? ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-7788867814976770374?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/7788867814976770374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=7788867814976770374' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7788867814976770374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/7788867814976770374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/08/mengapa-belajar-filsafat.html' title='Mengapa Belajar Filsafat?'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-8068486256928465178</id><published>2008-08-18T05:55:00.002+07:00</published><updated>2008-08-23T01:18:02.419+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Apa itu Filsafat?</title><content type='html'>Wah, belum apa-apa kok kita dah disuguhin pertanyaan yang berat. ;-) Anda sanggup menjawab pertanyaan ini? Kalau iya, silahkan posting dalam komentar di bawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak, mari kita coba untuk menjawabnya bersama-sama. Kalau kita menilik sejarahnya, kata filsafat ini berasal dari bahasa Yunani, Philosophia. Terdiri dari dua bentukan kata, philos dan sophos atau philein dan sophia. Philos dapat bermakna "sahabat" atau "teman", sedangkan sophos berarti "kearifan". Sementara itu, philein tidak lain daripada "mencintai" dan sophia adalah "kebijaksanaan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman serupa ini, paling tidak sudah ada sedikit pemahaman akan pengertian pertama dari filsafat. Namun demikian, kenapa ini disebut pengertian pertama? Ya, ini memang pengertian pertama. Sebab, kalau kita sudah membuka kamus atau buku filsafat yang seabreg-abreg itu, pengertian filsafat akan sesuai dengan pengertian penulisnya. Beberapa penulis mungkin akan mencapai kata sepakat tentang pengertian ini, sedangkan banyak yang lainnya malah berdebat seumur hidup tentang apa itu filsafat. (Daripada berdebat seumur hidup dan akan membuat kita capek, mendingan kita pahami sedikit-sedikit aja ya? Hehe...) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, kita juga dapat memahami apa itu filsafat dengan cara sederhana. Misalnya, kita dapat mendefinisikan filsafat sebagai "sejarah pemikiran". Ini karena kalau kita membaca teks-teks filsafat yang utama, maka kita akan dihadapkan pada rangkaian pemikiran yang dimulai dari semenjak masa Yunani Kuno hingga masa sekarang ini. Namun, orang boleh saja mengatakan bahwa awal mula filsafat berkembang semenjak masa India Kuno ataupun Cina Kuno. Ini bisa dibuktikan secara historis, walaupun lagi-lagi muncul suatu perdebatan karenanya. (Lho,kok debat lagi ya? Memang, ini kan kerjaan sebagian besar filsuf! Kalau ga debat, mereka akan kehilangan mata pencaharian tuh! ;-) ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, kita dapat membuat definisi yang baru bahwa filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu", atau bahasa kerennya adalah "a method to understanding". Alasan ketika memilih pengertian ini adalah karena pada saat kita belajar filsafat, kita dituntut untuk memamahami apa pun. Baik pemahaman tentang sesuatu yang sudah ada maupun pemahaman akan sesuatu yang mungkin dapat kita pikirkan. Jadi, saking luasnya materi pemahaman filsafat, orang dapat saja tersesat ketika mencoba untuk memahami filsafat. Bahwa ada yang mengatakan filsafat itu sesat atau menyesatkan, itu karena memang beliau ini khawatir kalau kita-kita sebagai pemula pembelajar filsafat akan bingung dan akhirnya mengalami "elol" hingga masuk rumah sakit jiwa. (Apa betul nih? Kok bikin takut aja! Hik hik... Ga usah takut, kita kan cuma akan sedikit memahami filsafat. Jadi, paling cuma agak puyeng-puyeng gitu. Saya jamin kok! ;-) ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena ada kemungkinan yang belum mungkin terjadi itu, maka belajar filsafat dengan cara yang mudah itu memang dibutuhkan. Ini juga diupayakan karena banyak orang salah memahami filsafat. Sebab, seringkali orang yang bertanya pada saya tentang apa itu filsafat sudah memiliki asumsi negatif. Baik karena mereka tidak tahu atau karena mereka menganggap remeh masalah-masalah filsafat. Bagi mereka, orang yang berfilsafat (filsuf) hanya membuang-buang waktu saja dan melakukan pekerjaan sia-sia. Oleh karena itu, mari kita belajar filsafat terlebih dahulu sebelum kita mencapnya sebagai sesat atau kesia-siaan. Kan, orang juga ga boleh berpikiran negatif tentang orang lain. Mungkin ini aja dulu pengantar dari saya tentang apa itu filsafat. Sampai ketemu lagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-8068486256928465178?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/8068486256928465178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=8068486256928465178' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8068486256928465178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/8068486256928465178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/08/apa-itu-filsafat.html' title='Apa itu Filsafat?'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7196165757138594501.post-3959228695995747809</id><published>2008-08-17T11:33:00.003+07:00</published><updated>2008-08-23T01:10:24.140+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Hai semuanya! Selamat datang di dunia filsafat.</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Salam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah posting pertama saya untuk blog belajar filsafat. Blog ini saya buat untuk memudahkan saya belajar filsafat secara teratur dan mandiri. Syukur kalau misalnya ada teman-teman yang juga suka dengan blog ini. Bukannya apa-apa, ini karena belajar filsafat identik dengan rumit, sulit, sukar, 'ndakik', atau lainnya yang serba membuat orang mundur teratur ketika belajar filsafat. Padahal, setelah saya nekad berjibaku atau 'ber-ikicibung' dalam dunia filsafat, filsafat itu ga susah-susah amat. Yang sulit justru mempelajari diri sendiri, alias instropeksi. ;-) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, makanya blog ini hadir. Baik untuk saya secara pribadi atau untuk teman-teman yang suka dan mau membaca blog ini. Eh, iya, ini kan hari kemerdekaan. Mudah-mudahan posting saya yang pertama di hari kemerdekaan yang ke-63 ini menjadi tonggak bersejarah bagi saya. Merdeka untuk berdikari dan merdeka untuk lepas dari korupsi. Hehe ... (Tapi saya bukan termasuk daftar pencarian orang di KPK lho!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, mungkin teman-teman yang tidak sabaran belum bisa melihat seperti apa sih belajar filsafat yang mudah itu. Doa'in aja, mudah-mudahan saya bisa segera menyiapkan posting kedua tentang materi belajar filsafat dengan "secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasikmalaya, 17 Agustus 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4im&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7196165757138594501-3959228695995747809?l=www.belajar-filsafat.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.belajar-filsafat.com/feeds/3959228695995747809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7196165757138594501&amp;postID=3959228695995747809' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/3959228695995747809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7196165757138594501/posts/default/3959228695995747809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.belajar-filsafat.com/2008/08/hai-semuanya-selamat-datang-di-dunia.html' title='Hai semuanya! Selamat datang di dunia filsafat.'/><author><name>4im</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18238074571379758449</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://4.bp.blogspot.com/_tH437ziOaS8/SKy51fYQ2fI/AAAAAAAAAAQ/GGcKngwLBlo/S220/746016799m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry></feed>
